EVALUASI PEMUGARAN GAPURA KUNA PURI ANDUL NEGARA

0
443

Letak dan Lingkungan

Puri Andul Negara secara administratif terletak di Desa Batuagung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana. Desa Batuagung memiliki wilayah yang memanjang dari utara ke selatan, yang panjangnya kurang lebih 9 km. Keadaan tanah desa ini, dibagian utara terdiri dari dataran tinggi yang berbukit-bukit, dengan luasan sekitar 35% dari keseluruhan luas wilayah Desa Batuagung, dengan kemiringan antara 20 – 40%  dan ketinggian 0 sampai 600 meter. Sedangkan di sebelah selatan desa merupakan dataran rendah yang subur.  Sebagai wilayah yang cukup subur Desa Batuagung memiliki sumber air yang melimpah, bersumber dari beberapa buah sungai, yaitu Sungai Telepus dan Sungai Panca Gede. Sungai Telepus yang terletak dibatas utara desa dimanfaatkan sebagai sumber air PDAM untuk memenuhi kebutuhan air di Banjar Taman, Sawe, Palunganbatu, Masean dan Yeh Makecir, sedangkan air dari Sungai Panca Gede dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air sampai di Balai Panceseming. Satu buah sungai yang peranannya cukup penting di wilayah Desa Batuagung adalah Sungai Tukadaya yang airnya dimanfaatkan  untuk mengairi sawah-sawah Subak Sawe serta subak-subak yang ada di sekitar Desa Batuagung, seperti misalnya subak-subak di Desa Budeng, Desa Dangin Tukadaya, Kelurahan Dauhwaru dan Kelurahan Sangkaragung.

Desa Batuagung termasuk wilayah yang memiliki iklim tropis, dimana curah hujan cukup banyak, yaitu berada diangka rata-rata 2000 sampai 3000 mm/tahun (terutama pada bulan Oktober sampai dengan April).

Uraian tersebut di atas merupakan gambaran makro kondisi Desa Batuagung, dan berikut ini akan diuraikan sedikit mengengenai kondisi lingkungan di sekitar Puri Andul Jembrana. Puri andul Jembrana memiliki batas-batas sebagai berikut: di sebelah utara pemukiman penduduk, sebelah barat pemukiman, sebelah timur jalan menuju ke Desa Batuagung dan sebelah selatan adalah Pura Jaga Rawi dan pemukiman. Secara keseluruhan lingkungan Puri Andul adalah pemukiman penduduk yang cukup padat dengan jumlah vegetasi yang tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa jenis pepohonan yang ada di sekitar lingkungan Gapura Kuna Puri Andul.

Orbitasi untuk dapat mencapai lokasi Puri Andul cukup mudah, karena berada di jalur utama yang menghubungkan Denpasar – Jembrana dan Gilimanuk. Tepatnya dari kota Denpasar untuk mencapai Puri Andul berjarak sekitar 96 km, sedangkan dari Ibukota Kabupaten berjarak sekitar 3 km ke arah timur, tepatnya berada di sebelah barat laut perempatan Desa Batuagung.

Sejarah

Sejarah berdirinya Puri Andul dapat diketahui dari masa pemerintahan Kerajaan Brambang di Jembrana. Ketika I Gusti Agung Widia bertahta di Gelgel, beliau mengutus salah seorang putranya yang bernama I Gusti Ngurah Basangtamiang dengan pengawalan berupa pasukan perang dan beberapa orang rakyat untuk menempati sebuah daerah bernama Brambang yang berlokasi di Jembrana. Selain mengemban tugas dari ayahnya, juga atas perintah Dalem yang memerintah di Gelgel pada saat itu. I Gusti Ngurah Basangtamiang akhirnya tiba di Desa Brambang untuk memegang tampuk pemerintahan dan mendirikan sebuah istana. Atas perintah Dalem agar istana yang dibangun terletak di dataran yang tinggi, agar berdirinya istana di Brambang akan dapat dilihat dari Blambangan (Banyuwangi), yang merupakan jajahan Kerajaan Gelgel. Pada saat pemerintahan I Gusti Ngurah Basangtamiang di Kerajaan Brambang, seluruh rakyat dan para patihnya sangat setia, taat, dan patuh kepada beliau.

Beberapa tahun beliau lamanya memerintah di Brambang, akhirnya dikisahkan beliau mempunyai putra yang bernama I Gusti Brambang Murti. Beliau adalah seorang putra yang sangat taat dan patuh kepada orang tua, namu tidak berapa lama setelah beliau dewasa, I Gusti Ngurah Basangtamiang wafat. I Gusti Brambang Murti menggantikan kedudukan ayahnya menjadi raja di Kerajaan Brambang. Beliau senang melakukan semadi, sehingga dianugrahi kesaktian yang sangat dibanggakannya. Pada saat beliau melakukan semadi pula beliau mempersunting seorang istri yang bernama I Gusti Ayu Dari. Selama I Gusti Brambang Murti memerintah di Kerajaan Brambang, keadaan kerajaan tentram, aman dan tanpa adanya perselisihan. Hal ini membuat Kerajaan Brambang menjadi mashur dan seluruh rakyatnya hidup tenteram. Suasana tenteram Kerajaan Brambang menjadi terganggu dengan adanya serangan yang tiba-tiba dari Kerajaan Blambangan. Rakyat bergolak melakukan perlawanan dalam peperangan yang sangat dahsyat, yang akhirnya dimenangkan oleh Kerajaan Brambang yang pada akhirnya membuat Kerajaan Blambangan tetap tunduk kepada Kerajaan Brambang.

Dikisahkan I Gusti Brambang Murti memiliki seorang putra yang bernama I Gusti Gede Giri dan seorang putri yang bernama I Gusti Ayu Asti. Pemegang kekuasaan berikutnya di Kerajaan Brambang adalah I Gusti Gede Giri. Tidak lama setelah beliau memegang kekuasaan, Kerajaan Brambang diserang oleh Kerajaan Buleleng yang saat itu diperintah oleh I Gusti Panji Sakti. Selanjutnya Kerajaan Brambang takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Buleleng dan status I Gusti Gede Giri diturunkan menjadi manca agung, bukan lagi sebagai raja. I Gusti Gede Giri dikaruniai 2 orang putra, yaitu : I Gusti Ngurah Tapa dan I Gusti Ngurah Made Yasa.

Dalam Babad Sang Aji Basangtamiang disebutkan bahwa Kerajaan Brambang merupakan bagian dari Kerajaan Mengwi (Mangunpura). Pada saat itu di Mengwi bertahta seorang raja yang bernama Ida Anak Agung Ngurah Gde Agung. Berita kekalahan Kerajaan Brambang atas Kerajaan Buleleng telah sampai di Kerajaan Mengwi. Ida Anak Agung Ngurah Gde Agung mengutis I Gusti Celul Tereh mengadakan penyelidikan ke Buleleng dan meminta ketegasan kepada Raja Buleleng agar Kerajaaan Brambang dan Blambangan dikembalikan kepada Kerajaan Mengwi. Namun dengan tegas Keinginan Kerajaan Mengwi ditolak oleh Kerajaan Buleleng. Karena kedua pihak mempertahankan prinsip masing-masing maka Kerajaan Mengwi memutuskan untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Buleleng. Dalam peperangan kedua belah pihak kehilangan balatentara yang sama banyaknya. Akhirnya karena sama-sama kewalahan diputuskan untuk menempuh jalan damai, dengan syarat Kerajaan Brambang dan Blambangan dikembalikan di bawah kekuasaan Kerajaan Mengwi dan menyerahan adik dari Ki Gusti Panji Sakti yang bernama Ki Gusti Ayu Panji untuk dipersunting sebagai istri.

Sekitar tahun 1621 caka (1699 masehi) Kerajaan Brambang diperintah oleh I Gusti Putu Tapa, merencanakan akan melaksanakan upacara maligya bagi para leluhur yang telah wafat. Untuk menyampaikan maksud tersebut I Gusti Putu Tapa mengutus adiknya I Gusti Made Yasa ke Mengwi dan memohon agar Raja Mengwi bersedia menghadiri acara tersebut. Setelah meyampaikan maksud tersebut kepada Raja Mengwi, I Gusti Made Yasa dan rombongan dari Kerajaan Brambang segera mohon diri untuk kembali ke Jembrana. Sebelum tiba di Istana Brambang, beliau dicegat oleh hamba beliau dan mengatakan bahwa kerajaan beserta istana telah hancur dan musnah akibat bencana yang melanda. I Gusti Made Yasa beserta rombongan kembali ke Mengwi untuk meyampaikan apa yang terjadi di Kerajaan Brambang. Dengan adanya pristiwa tersebut Raja Menwi membuat kebijakan untuk tetap mempertahankan jalinan kekeluargaan diantara Kerajaan Brambangan dan Mengwi. Beliau mengawinkan I Gusti Made Yasa dengan I Gusti Ayu Resik, serta menganugrahkan sebilah keris yang bernama I Kebo Dongol dan sebuah tombak yang bernama I Dukuh Sakti serta dianugrahkan 100 orang rakyat untuk membangun kembali Kerajaan Brambang. I Gusti Made Yasa beserta rakyatnya membangun kembali istana di tempat yang baru. Lokasi ini banyak ditumbuhi pepohonan, baik besar maupun kecil. Diantara pepohonan itu banyak terdapat pohon andul. Dalam kitab sastra Jawa Kuna “Kalangwan” karya P.J. Zoetmulder, yang dimaksud dengan pohon andul adalah pohon rijasa. Oleh sebab itu istana yang dibangun di lokasi tersebut disebut dengan Puri Andul, karena dikelilingi oleh pohon andul.

Perkawinan I Gusti Made Yasa dengan I Gusti Ayu Resik dikaruniai seorang putra bernama I Gusti Gde Andul. Atas persetujuan Raja Mengwi, setelah dewasa beliau memerintah di Jembrana. I Gusti Made Yasa akhirnya meninggal karena usianya yang telah lanjut. Pemerintahan I Gusti Gde Andul melanjutkan sistem pemerintahan ayahnya, dan beliau sangat taat dan masih mengadakan hubungan yang baik dengan Kerajaan Mengwi.

Evaluasi Pemuigaran Gapura Kuno Puri Andul Negara

Kegiatan evaluasi pasca pemugaran merupakan suatu kegiatan untuk merekam atau mengumpulkan data kerusakan yang terjadi pada suatu bangunan atau struktur  cagar budaya yang sudah mendapatkan usaha pelestarian berupa pemugaran pada waktu yang lalu. Kegiatan evaluasi pasca pemugaran ini dipandang sangat perlu dilaksanakan mengingat akan pentingnya pemantauan akan kondisi terkini dari bangunan atau struktur cagar budaya yang sudah mendapatkan perlakuan pelestarian melalui kegiatan pemugaran.

Mengingat akan pentingnya kegiatan evaluasi pasca pemugaran, maka dilaksanakanlah kegiatan ini terhadap struktur  cagar budaya yang berupa gapura kuna  yang terdapat di Puri Andul Negara, yang sudah pernah mendapatkan usaha pelestarian melalui kegiatan pemugaran beberapa tahun yang lalu. Merupakan rentang yang sudah cukup lama untuk melaksanakan pengamatan terhadap kondisi terkini dari gapura kuna  ini dari selesainya pelaksanaan pemugarannya beberapa tahun yang lalu, baik itu terhadap kondisi fisik bangunan, kondisi keterawatan dan lingkungannya.

Selama pelaksanaan kegiatan evaluasi pasca pemugaran terhadap gapura kuna Puri Andul  ini, secara umum kondisi struktur cagar budaya  ini masih sangat baik. Rentang waktu dari selesai dipugar sampai dengan sekarang, kondisi fisik gapura kuna Puri Andul Negara  ini  masih terlihat stabil. Dan kalaupun ada  gejala-gejala kerusakan dan pelapukan jumlah dan prosentasenya tidak terlalu besar. Dilihat dari data pemugaran yang berupa gambar-gambar rencana pemugaran serta data dokumentasi berupa foto dapat diketahui bahwa proses pelaksanaan pemugaran pada saat itu telah menerapkan sistem pemugaran yang baik dan benar sesuai dengan prinsip-prinsip pemugaran bangunan atau struktur cagar budaya.

Penerapan pemugaran dengan memperhatikan syarat-syarat teknis tersebut di atas juga dibarengi dengan pelaksanaan prinsip-prinsip konservasi, baik itu konservasi struktur bangunan maupun konservasi bahan/komponen bangunan yang merupakan unsur asli gapura kuna Puri Andul. Konservasi struktur  adalah dengan pemasangan lapisan kedap air jenis thermosetting pada bagian plat dan antara batu isian dengan dengan batu yang merupakan kompnen asli (batu kulit), hal ini bertujuan untuk mengantisipasi kerusakan dan pelapukan yang disebabkan oleh adanya kapilarisasi air tanah.  Lebih jelasnya mengenai penanganan gejala kerusakan dan pelapukan yang terjadi pada gapura kuna Puri Andul akan diuraikan pada uraian rencana penanganan di bawah ini.

Rencana Penanganan Gejala Kerusakan dan Pelapukan

  • Penanganan Tradisional

Penanganan secara tradisional dilakukan dengan mempergunakan peralatan seperti solet, sapu lidi, sikat ijuk, kapi serta peralatan lainnya. Tindakan ini efektif bila kerusakan secara biologis seperti moss, algae dan lichen telah mengering dan mati.

  • Penanganan Modern

Perawatan modern adalah perawatan yang dilakukan dengan mempergunakan bahan kimia. Adapun jenis penanganan perawatan modern yang dilakukan adalah : pembersihan, perbaikan, konsolidasi, pengawetan dan pemberian lapisan pelindung (coating).

Berikut ini akan diuraikan tentang bagaimana kegiatan penanganan  secara modern dilaksanakan :

  1. Pembersihan
  • Pembersihan Mekanis Kering

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membersihkan akumulasi debu, kotoran-kotoran dan endapan-endapan tanah dalam bentuk inkratasi bekas-bekas rumah serangga. Dalam pelaksanaannya pembersihan mekanis kering dilaksanakan dengan hati-hati dan cermat untuk menghindari adanya pertambahan kerusakan mekanis.

  • Pembersihan Mekanis Basah

Kegiatan pembersihan mekanis basah disini dengan mempergunakan bahan kimia jenis AC 322 dengan tujuan untuk membunuh jasad-jasad renik yang sangat membandel dan masih aktif.

  • Pembersihan Chemis

Pembersihan chemis dilakukan untuk membersihkan noda-noda yang sulit dibersihkan secara tradisional, seperti moss, algae, lichen, dan  garam-garam yang sudah mengendap. Bahan yang dipergunakan pada kegiatan ini adalah pelarut organik sejenis alkohol, aceton dan larutan air. Sebelum mempergunakan bahan-bahan tersebut perlu dilaksanakan pengujian terlebih dahulu untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan dampak yang terjadi terhadap obyek yang akan dikonservasi.

  1. Perbaikan

Adapun beberapa cara untuk menangani jenis kerusakan yang terdapat pada gapura kuna Puri Andul Negara adalah sebagai berikut :

  • Penyambungan

Kegiatan ini dilakukan pada bata dan batu padas  yang pecah maupun yang patah. Adapun bahan yang dipergunakan adalah DF 614 dengan perbandingan 1 : 4

  • Kamuflase

Sasaran dari kegiatan ini adalah pada bagian bata dan  batu padas yang telah disambung, dengan tujuan untuk menyangga dan memperkuat bekas sambungan tadi. Bahan yang dipergunakan adalah bubuk bata dan batu padas.

  • Konsolidasi

Untuk memperkuat struktur bata dan batu padas yang telah lapuk maka sangat perlu dilakukan konsolidasi. Adapun bahan yang dipergunakan adalah paraloid B-72 dengan bahan pelarut Ethyl Acetate  dengan konsentrasi 3 %.

  • Pengawetan

Untuk pengawetan bata dan batu padas dipergunakan bahan Nyvar X-1 dengan konsentrasi 5 %. Pengawetan dilakukan pada semua permukaan  bata dan batu padas.

  • Pelapisan (Coating)

Tindakan pemberian lapisan pelindung, sasarannya adalah diseluruh permukaan komponen gapura kuna Puri Andul Negara,  karena lokasi struktur cagar budaya ini  berada di tempat yang tidak terlindung.

  • Kedap Air

Pemasangan kedap air disini sangat diperlukan dengan tujuan untuk menghindari akan terjadinya kapilarisasi air yang masuk ke dalam gapura kuna Puri Andul Negara, baik itu air tanah maupun air hujan.

Rencana Penanganan Lingkungan

Hasil dari pelaksanaan pemugaran gapura kuna Puri Andul Negara yang dilaksanakan beberapa tahun yang lalu adalah harapan untuk dapat mewujudkan kembali keberadaan  struktur  cagar budaya tersebut ke dalam bentuk aslinya, berdasarkan data yang telah dikumpulkan sebelumnya. Pelaksanaan pemugaran gapura kuna ini didasarkan atas prinsip dan prosedur pemugaran cagar budaya, dengan memperhatikan keaslian bentuk, bahan, tata letak serta teknik pengerjaan. Disamping itu hal yang tidak kalah pentingnya selama pelaksanaan  pemugaran gapura kuna Puri Andul Negara adalah dengan menugaskan tenaga-tenaga yang sudah berpengalaman dan memiliki kompetensi terhadap pemugaran  cagar budaya. Dengan memperhatikan hal tersebut di atas pemulihan struktur dan arsitektur gapura kuna Puri Andul Negara dapat diwujudkan.

Dalam upaya pelestarian terhadap struktur  cagar budaya gapura kuna Puri Andul  setelah dilakukannya pemugaran, perlu diimbangi dengan upaya atau usaha untuk penataan lingkungan, agar keberadaan struktur cagar budaya tersebut tampak serasi atau menyatu dengan lingkungan di sekitarnya. Secara umum kerusakan lingkungan yang dapat mempengaruhi keberadaan bangunan atau struktur cagar budaya disebabkan oleh faktor alam dan manusia. Salah satu faktor alam yang dapat mempengaruhi keberadaan bangunan cagar budaya adalah  pengaruh air, baik itu yang berupa air tanah maupun air hujan yang tidak dapat dikendalikan, sedangkan faktor manusia yang dapat mempengaruhi keberadaan bangunan atau struktur  cagar budaya adalah pemanfaatan lahan di sekitar bangunan atau struktur  cagar budaya yang tidak terkendali. Berkenaan dengan hal tersebut maka usaha penataan lingkungan yang dilaksanakan setelah melihat kondisi gapura kuna Puri Andil saat ini adalah :

  1. Pembuatan Saluran Drainase

Pembuatan saluran drainase gapura kuna Puri Andul negara dimaksudkan sebagai usaha pengendalian genangan air hujan pada saat musim penghujan, selain itu pembuatan saluran drainase ini juga untuk meminimalisasi kapilarisasi air tanah.   Alternatif pembuatan saluran drainase ini adalah dengan membuat saluran ke tempat yang posisinya lebih rendah daripada posisi gapura kuna Puri Andul Negara. Selain itu perlu dibuatkan parit kecil yang mengelilingi gapura kuna Puri Andul  untuk meminimalisasi genangan air  yang sampai ke bagian pondasi saat musim penghujan.

  1. Pertamanan

Pertamanan adalah kegiatan mengolah dan menata lahan dengan menanami berbagai tanaman dan memperhatikan segi keindahan (estetika), serta banyak terkait dengan penataan ruang menggunakan berbagai elemen, terutama tanaman. Dari pengertian tersebut apabila pertamanan diaplikasikan pada situs cagar budaya harus memperhatikan hal-hal yang sebagai berikut : memberikan keasrian/estetika situs cagar budaya dan  lingkungannya, tidak mendominasi situs atau cagar budaya dan tidak mengancam kelestarian situs/cagar budaya. Berdasarkan hal tersebut, kiranya setelah pelaksanaan pemugaran gapura kuna Puri Andul Negara perlu dilaksanakan pertamanan  sehingga akan menambah kesan indah dan asri.

  1. Pembuatan Papan Nama Situs

Sampai saat ini Puri Andul Negara sebagai situs cagar budaya belum memiliki papan nama yang menunjukkan bahwa puri ini adalah situs cagar budaya. Sehingga banyak masyarakat yang tidak mengetahui keberadaan Puri Andul sebagai situs cagar budaya. Berkenaan dengan hal tersebut perlu kiranya dibuatkan papan nama yang menunjukkan Puri Andul ini adalah situs cagar budaya, sehingga masyarakat mengetahuinya dan lebih bisa menghargai keberadaannya sebagai suatu warisan yang mengandung nilai-nilai luhur budaya nenek moyang.

 

BAGIKAN
Artikulli paraprakBekas Kantor Pelabuhan Buleleng
Artikulli tjetërSitus Gua Karang Boma 1/Pura Gua Karang Boma 1
Balai Pelestarian cagar Budaya Bali Wilayah Kerja prov. Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur Jalan Raya Tampaksiring, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali 80581 Telepon (0361) 942347, Fax (0361) 942354 e-mail: bpcbbali@kemdikbud.go.id dan bp3_bali@yahoo.com

TINGGALKAN KOMENTAR