Candi Bakungan Salah Satu Tinggalan Dari Masa Majapahit Di Bali Barat

0
5250

Candi Bakungan terletak di Pura Bakungan yang berada di pinggir jalan raya jurusan Gilimanuk-Singaraja, secara administrasi termasuk wilayah Dusun Penginuman, Kelurahan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana. Provinsi Bali, lokasi situs terletak pada titik koordinat 50 L 0218775, 9094463 UTM dengan ketinggian 16 Meter Diatas Permukaan Laut. Lokasi pura cukup dekat dengan garis pantai gilimanuk dan pada jarak 40 meter di utara pura terdapat areal rawa-rawa yang ditumbuhi hutan bakau.

lokasi candi bakunganPura Bakungan berada di dalam areal hutan lindung yang terbentang luas di mana hutan lindung tersebut di bawah pengawasan Kantor Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (Taman Nasional Bali Barat). Di dalam kawasan hutan masih di jumpai seperti burung, babi, dan monyet, malahan sering kawanan monyet secara rutin mendatangi lokasi pura dengan tujuan mencari makanan dari sisa sesaji yang biasanya diletakkan di depan bangunan candi.

Inventaris Tahun 2015

No Situs : 3/14-01/STS/5

No Struktur : 4/14-01/STR/10

Candi Bakungan merupakan satu-satunya bangunan kuna di wilayah Bali Barat yang dibangun mempergunakan material batu bata serta memiliki langgam Majapahit yang berasal dari sekitar abad XV Masehi. Selain Candi Bakungan, bangunan yang selanggam dari bahan yang sama juga ditemukan di Pura Sada Kapal, Pura Maospait Gerenceng, dan Pura Maospait Tonja di Denpasar.

Tampak Depantampak belakangCIMG_0527andi Bakungan memiliki latar kepercayaan Siwa-Budha. Status kepemilikan dan pengelolaan Pura Candi Bakungan saat ini oleh keluarga keturunan Sentana Dinasti Arya Mekel Cengkong yang menurut sejarah babad merupakan keturunan dari Patih Nambi. Saat ini ada tiga pemangku di Pura Candi Bakungan, yaitu : Jro Mangku Gusti Putu Purwa, Jro Mangku Gusti Kade Subamia, dan Jro Mangku Gusti Putu Basma. Dari informasi yang diperoleh dari Jro Mangku, Pura Candi Bakungan memiliki kaitan dengan Pura Pecangakan di Negara (belakang kantor bupati), Pura Kembar di Mertasari Negara (pinggir pantai). Odalan atau hari suci dilaksanakan 6 bulan sekali pada hari Buda Wage Kelau (pertanggalan Bali).

Candi ini berdiri di atas batur, diklilingi kolam dengan ukuran Panjang : 7,52 meter, Lebar : 7,46 meter. Bebaturan memiliki ukuran Tinggi 1,27 meter, Lebar 5,8 meter, dan Panjang 5,20 meter. Secara keseluruhan candi memiliki ukuran Panjang 1,88 meter, Lebar 1,48 meter dan Tinggi 4,88 meter. Candi terdiri dari tiga bagian yaitu :

1. Bagian kaki, dimana keempat bidang sisinya terdapat hiasan relief kala, hanya pada bidang depan dan sisi kanan yang masih tersisa, sedangkan sisi kiri dan belakang sudah hilang diganti dengan susunan batu baru polos tanpa hiasan. Diantara bagaian kaki dan badan pada bagian depan terdapat bentuk selasar. Pada bidang selasar ini diletakan dua buah lingga.

bagian kaki depan

2. Bagian badan, pada bidang sisi depan, kiri, dan kanan terdapat bentuk relung yang berhiaskan pintu semu, terdapat motif hias berupa salib portugis di bagian tengahnya, dan bidang sisi belakang terdapat hiasan relief kala. Bagian motif kala kondisinya sangat aus, hanya beberapa kompanen yang dapat dipertahankan dan dipasang kembali. Sisanya merupakan bahan bata baru.

bagian badan

3. Bagian atap, terdiri dari tiga tingkatan, semakin keatas bentuknya mengecil dengan bentuk atap limas, pada bagian sudut disetiap tingkatan terdapat hiasan bentuk simbar polos.

bagian atap

Selain Candi terdapat Benda Cagar Budaya berupa 2 (dua) buah Lingga yang diletakkan di depan candi, masing-masing memiliki ukuran :

Lingga I (kanan candi), No : 1/14-01/BND/18

lingga memiliki ukuran :Lingga I

Tinggi              : 64 cm

Lebar               : 20,5 cm

Tebal               : 21 cm

Diameter          : 19 cm

Diskripsi          : Lingga utuh terdiri dari tiga bagian yaitu bagian segi empat (Brahma Bhaga), Segi Delapan (Wisnu Bhaga), dan Bulatan/puncak Lingga (Siwa Bhaga). Pada bagian bulatan terdapat cerat (tali karawista) yang merupakan simbol dari kesucian.

 

Lingga II (kiri candi), No : 1/14-01/BND/19Lingga II

lingga memiliki ukuran :

Tinggi              : 58 cm

Lebar               : 18,5 cm

Tebal               : 19 cm

Diameter          : 13,5 cm

Diskripsi          : Kondisi lingga sangat aus, terdiri dari tiga bagian yaitu bagian segi empat (Brahma Bhaga), Segi Delapan (Wisnu Bhaga), dan Bulatan/puncak Lingga (Siwa Bhaga). Tidak terdapat cerat karena bagian puncak sangat aus.

Informasi mengenai Pura Bakungan pertama kali dipublikasikan oleh DR. R. Goris dalam bukunya “Sejarah Bali Kuna” yang terbit tahun 1984, yang menyebutkan terdapat sejumlah candi kuna di Bali diantaranya termasuk Candi Bakungan di Jembrana. Sumber lain yang menyebutkan Candi Bakungan tertulis di dalam lontar yang berjudul “Pralina Puri Pecangakan Muah Bakungan Sangkaning Rajapisuna Jaran Banarana” milik Ida Pedande Gede Panida Jembrana. Menurut isi lontar tersebut nama Candi Bakungan berasal dari peristiwa penaklukan Bali oleh kerajaan Majapahit tahun 1343 Masehi yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada beserta beberapa Arya, diantaranya Arya Mekel Cengkong. Atas keberhasilan Arya Cengkong menundukkan pasukan Bali Kuna di wilayah Jembrana maka atas jasa beliau ditempatkan selaku penguasa wilayah Jembrana. Segenap kehidupan sisoal budaya dapat diterapkan dengan mengikuti tradisi Majapahit.

Pada tahun 1950 kondisi Candi Bakungan banyak mengalami kerusakan sehingga masyarakat memperbaikinya dengan cara menambal bagian yang rusak dengan perekat campuran bahan semen, pasir, dan kapur. Dalam upaya pelestariannya dan menghindari kerusakan yang lebih parah lagi maka Balai Pelestarian Cagar Budaya tahun 1993 yang saat itu bernama Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala melaksanakan pemugaran.

Editor : Nyoman

Dokumentasi : Eka Wiranata