Cagar Budaya/Objek Diduga Cagar Budaya di Situs Kampung Adat Todo

0
643

“Pemerintah berkewajiban melakukan pencarian benda, bangunan, struktur, dan/atau lokasi yang diduga sebagai Cagar Budaya” demikian tercantum dalam Pasal 26 ayat 1 Undang-Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Kalimat ini merupakan salah satu dasar dari kegiatan Pendokumentasian Cagar Budaya dan Obyek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali. Kegiatan pendokumentasian ini diharapkan bisa menambah data jumlah warisan budaya kebendaan yang tersebar di seluruh wilayah kerja BPCB Bali, sehingga pada akhirnya dapat terpetakan dengan baik sebelum dilakukan upaya pelestariannya. Kegiatan pendokumentasian adalah kegiatan paling awal dari upaya Pelestarian Cagar Budaya atau Obyek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB).

Pendugaan terhadap sebuah warisan kebendaan sebagai Cagar Budaya tentu saja harus berdasarkan pada pengertian Cagar Budaya yang tercantum dalam Undang-undang No 11 Tahun 2010 yang mana Cagar Budaya dipahami sebagai warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan kawasan Cagar Budaya di darat/atau di air perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Dan berdasarkan pengertian ini maka pada Pasal 5 disebutkan kriteria Cagar Budaya yang terdiri dari :

  1. Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;
  2. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
  3. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan dan;
  4. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Cakupan wilayah kerja BPCB Bali yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur menjadi permasalahan tersediri dalam menentukan prioritas kegiatan dalam satu tahun anggaran. Salah satu kriteria penentuan lokus kegiatan pendokumentasian adalah jumlah ODCB yang telah terinventarisasi sampai saat ini (2018). Berdasarkan data tersebut, Provinsi Nusa Tenggra Timur memiliki data yang paling rendah, dan terdapat beberapa kabupaten yang menempati data terendah. Salah satu Kabupaten yang memiliki data ODCB yang paling sedikit adalah Kabupaten Manggarai. Sebaran data inventarisasi yang terdapat di Kabupaten Manggarai dalam database BPCB Bali hanya tercatat sejumlah 4 Situs dengan  0 Benda 7 Struktur dan 9 Bangunan dibandingkan dengan jumlah keseluruhan sebaran yang terdapat di wilayah Nusa Tenggara Timur mencapai 156 Situs maka persentasenya hanya mencapai 2,5 % saja. Sedangkan pada wilayah Nusa Tenggara Barat rata-rata situs yang sudah terinventarisasi per kabupaten adalah 17,6 Situs, dan akan sangat jauh perbandinganya dengan kabupaten di Provinsi Bali yang mencapai 76,5 Situs per kabupatenya.

Secara umum Kabupaten Manggarai terletak di Pulau Flores di bagian ujung baratnya, tepatnya di sebelah timur dari Kabupaten Manggarai Barat. ODCB yang terdapat di Kabupaten Manggarai sebagian besar merupakan rumah adat beserta tradisi megalitiknya, selain itu tinggalan lain yang seharusnya banyak adalah tinggalan kolonial yang berasal dari masa pendudukan Portugis di Pulau Flores. Kondisi wilayah yang memiliki kontur berbukit dan kebisaan penempatan rumah adat pada wilayah yang cukup sulit dicapai memberikan tantangan tersendiri.

Selain sebagai usaha awal dalam upaya pelestarian, kegiatan inventarisasi dan pendokumentasian Cagar Budaya ini dilakukan untuk memberikan upaya pelindungan hukum awal bagi keterdapatan Obyek yang Diduga Cagar Budaya, sehingga saat dilakukan proses penetapan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah kondisi dan keterdapatan ODCB tersebut masih dalam kondisi terawat dan memperoleh pelindungan.

 

Cagar Budaya/ODCB di Situs Kampung Adat Todo

  • Compang (tempat persembahan)

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/08
  • Bahan/material : Andesit
  • Warna : Abu-abu
  • Ketinggian : 791 Meter
  • Kordinat : 51 L; 210872,09 E; 9033915,86 S
  • Luas lahan :  77,15 m2
  • Ukuran  :
    • Panjang : 10,65 Meter
    • Lebar  : 7,98 Meter
    • Tinggi : 1 Meter
  • Kondisi :  Utuh
  • Periode/masa : Prasejarah (tradisi megalitik)
  • Deskripsi : Compang ini merupakan susunan batu alam yang ditata menyerupai bentuk persegi empat. Pada bagian atas compang terdapat delapan buah makam dengan orientasi utara-selatan yang merupakan makam dari tokoh adat terdahulu (keturunan dari raja), serta sebuah menhir dengan motif kedok muka pada salah satu sisinya. Compang yang bercorakmegalitik ini difungsikan oleh masyarakat terdahulu dan berlanjut hingga sekarang sebagai pusat perkampungan sehingga terletak ditengah-tengah kampung, sebagai media penghormatan terhadap leluhur yang disimbolkan dengan adanya menhir dan susunan batu sebagai tempat meletakkan sesaji, serta sebagai tempat penguburan.

 

  • Makam Dalu Todo

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/09
  • Bahan/material : Andesit
  • Warna : Abu-abu
  • Ketinggian : 790 meter
  • Kordinat : 51 L; 210873,12 E; 9033928,14 S
  • Luas lahan :  2,438 m2
  • Ukuran :
    • Panjang :  265 cm
    • Lebar : 92 cm
    • Tinggi : 23 cm
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : –
  • Deskripsi : Makam ini berupa susunan batu alam yang ditata dengan bentuk persegi panjang. Makam dengan orientasi utara-selatan yakni nisan berada pada sisi utara, pada nisan terdapat tulisan ”PETRUS MBUHUNG, Dalu Todo” serta angka tahun ”Todo 1895, Todo 08-08-1971”. Dalu merupakan nama jabatan terdahulu yang berada setingkat dibawah raja, makam ini merupakan seorang tokoh adat di kampung todo yang berada setingkat dibawah raja. Makam dalam kondisi ditumbuhi rumput liar pada bagian atas dan sekelilingnya.

 

  • Makam 1

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/10
  • Bahan/material : Andesit (Columnar)
  • Warna  : Abu-abu
  • Luas lahan : 0,42 m2
  • Ukuran :
    • Panjang : 141 cm
    • Lebar : 30 cm
    • Tinggi : 50 cm
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : –
  • Deskripsi : berupa batu alam berbentuk persegi panjang yang berorientasi utara- selatan diletakkan diatas makam sebagai penanda, serta nisan berupa batu alam dengan bentuk lancip pada bagian atasnya yang berada pada sisi utara. Tidak terdapat motif hias pada makam (polos), serta makam dalam kondisi ditumbuhi lichen dan rumput liar. Makam ini merupakan makam seorang tokoh adat di kampung todo terdahulu.

 

  • Makam 2

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/11
  • Bahan/material : Andesit (Sheeting)
  • Warna : Abu-abu
  • Luas lahan : 0,239 m2
  • Ukuran :
    • Panjang : 63 cm
    • Lebar : 38 cm
    • Tinggi : 52 cm
  • Kondisi : Tidak utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa   : –
  • Deskripsi : berupa batu alam berbentuk persegi empat (setengah bagiannya telah hilang/patah) yang berorientasi utara-selatan diletakkan diatas makam sebagai penanda, serta nisan berupa batu alam dengan bentuk pipih yang berdiri tegak pada sisi utara. Tidak terdapat motif hias pada makam (polos), serta makam dalam kondisi ditumbuhi lichen dan rumput liar. Makam ini merupakan makam seorang tokoh adat di kampung todo terdahulu.

 

  • Makam 3

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/12
  • Bahan/material : Andesit (Columnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Luas lahan :  0,91 m2
  • Ukuran :
    • Panjang : 182 cm
    • Lebar : 50 cm
    • Tinggi : 30 cm
  • Kondisi :  Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa   :
  • Deskripsi : berupa batu alam berbentuk persegi panjang yang berorientasi utara-selatan diletakkan diatas makam sebagai penanda, serta nisan berupa batu alam dengan bentuk persegi empat berdiri tegak pada sisi utara. Tidak terdapat motif hias pada makam (polos), serta makam dalam kondisi ditumbuhi lichen dan rumput liar. Makam ini merupakan makam seorang tokoh adat di kampung todo terdahulu.

 

  • Makam 4

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/13
  • Bahan/material : Andesit (Columnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Luas lahan :  0,46 m2
  • Ukuran :
    • Panjang : 140 cm
    • Lebar : 33 cm
    • Tinggi : 23 cm
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : –
  • Deskripsi : berupa batu alam berbentuk persegi panjang yang berorientasi utara-selatan diletakkan diatas makam sebagai penanda, serta nisan berupa batu alam dengan bentuk persegi empat berdiri tegak pada sisi utara. Tidak terdapat motif hias pada makam (polos), serta makam dalam kondisi ditumbuhi lichen dan rumput liar. Makam ini merupakan makam seorang tokoh adat di kampung todo terdahulu.

 

  • Makam 5

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/14
  • Bahan/material : Andesit (Columnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Luas lahan :  0,442 m2
  • Ukuran :
    • Panjang : 130 cm
    • Lebar     : 34 cm
    • Tinggi    : 40 cm
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa   :
  • Deskripsi : berupa batu alam berbentuk persegi panjang yang berorientasi utara-selatan diletakkan diatas makam sebagai penanda, serta nisan berupa batu alam dengan bentuk tidak beraturan yang meruncing pada bagian atasnya berdiri tegak pada sisi utara. Tidak terdapat motif hias pada makam (polos), serta makam dalam kondisi ditumbuhi lichen dan rumput liar. Makam ini merupakan makam seorang tokoh adat di kampung todo terdahulu.

 

  • Makam 6

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/15
  • Bahan/material : Andesit (Columnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Luas lahan : 0,21 m2
  • Ukuran :
    • Panjang : 70 cm
    • Lebar : 30 cm
    • Tinggi : 46 cm
  • Kondisi  : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : –
  • Deskripsi : berupa batu alam berbentuk persegi panjang yang berorientasi utara-selatan diletakkan diatas makam sebagai penanda, serta nisan berupa batu alam dengan bentuk tidak beraturan yang meruncing pada bagian atasnya berdiri tegak pada sisi utara. Tidak terdapat motif hias pada makam (polos), serta makam dalam kondisi ditumbuhi lichen dan rumput liar. Makam ini merupakan makam seorang tokoh adat di kampung todo terdahulu.

 

  • Makam 7

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/16
  • Bahan/material : Andesit (Columnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Luas lahan :  0,387 m2
  • Ukuran :
  • Panjang : 155 cm
  • Lebar : 25 cm
  • Kondisi :  Tidak utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : –
  • Deskripsi  : berupa batu alam berbentuk persegi panjang yang berorientasi utara-selatan diletakkan diatas makam sebagai penanda. Tidak terdapat nisan pada makam ini (telah hilang), serta makam dibuat polos (tanpa motif hias). Makam dalam kondisi ditumbuhi lichen dan rumput liar. Makam ini merupakan makam seorang tokoh adat di kampung todo terdahulu.

 

  • Makam 8

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/17
  • Bahan/material : Andesit (Columnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Luas lahan : 0,58 m2
  • Ukuran :
    • Panjang : 153 cm
    • Lebar : 38 cm
    • Tinggi : 35 cm
  • Kondisi :  Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : –
  • Deskripsi : berupa batu alam berbentuk persegi panjang yang berorientasi utara-selatan diletakkan diatas makam sebagai penanda, serta nisan berupa batu alam dengan  bentuk persegi empat pipih yang berdiri tegak pada sisi utara. Tidak terdapat motif hias pada makam (polos), serta makam dalam kondisi ditumbuhi lichen dan rumput liar. Makam ini merupakan makam seorang tokoh adat di kampung todo terdahulu.

 

  • Batu Perempuan (Monolit)

  • No Inventaris : 4/16-08/STR/18
  • Bahan/material : Andesit
  • Warna : Abu-abu
  • Luas lahan : 1,65 m2
  • Ukuran :
  • Panjang : 150 cm
  • Lebar : 110 cm
  • Tinggi : 75 cm
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa   : –
  • Deskripsi : berupa batu alam dengan bentuk yang tidak beraturan, serta pada bagian atasnya terdapat cekungan (lubang). Batu ini merupakan sebuah simbol perempuan untuk masyarakat di kampung todo dikarenakan bentuknya yang menyerupai kemaluan perempuan, biasanya batu ini terdahulu difungsikan sebagai tempat duduk gadis-gadis di kampung todo, serta tempat menjemur kain tradisional setempat.

 

  • Batu Laki-laki (Menhir)

  • No Inventaris  : 4/16-08/STR/19
  • Bahan/material : Andesit (Columnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Luas lahan :  0,3 m2
  • Ukuran :
  • Panjang : 20 cm
  • Lebar : 15 cm
  • Tinggi : 25 cm
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa   : –
  • Deskripsi : berupa batu alam dengan bentuk menyerupai lingga. Batu ini merupakan simbol laki-laki untuk masyarakat di kampung todo, biasanya batu ini difungsikan sebagai tangga (pijakan pertama) menuju ke compang (tempat persembahan).

 

  • Niang Mbowang (Rumah Adat Kampung Todo)

  • No Inventaris : 2/16-08/BNG/10
  • Bahan/material : Kayu, Bambu, Ijuk dan Alang-alang
  • Ketinggian : 18 meter
  • Kordinat : 51 L; 210868,21 E; 9033988,50 S
  • Luas bangunan : 343m2
  • Luas Lahan : 343m2
  • Kondisi : Utuh dan terawat
  • Periode/masa  : –
  • Deskripsi :  Merupakan rumah adat di Kampung Todo dengan bentuk rumah panggung yang berdenah lingkaran, serta atap berbentuk kerucut yang menjuntai hampir menyentuh tanah. Kontruksi bangunan Niang Mbowang merupakan struktur rangka kayu bertingkat lima lantai terdiri dari lantai dasar disebut Lutur sebagai tempat tinggal dan berkumpul keluarga, selanjutnya Lobu yang berfungsi sebagai gudang tempat menyimpan bahan makanan, kemudian Lentar berfungsi untuk menyimpan benih tanaman untuk bercocok tanam, dan Lempa berfungsi untuk menyimpan stok cadangan makanan yang berguna saat gagal panen, serta Hekang berfungsi sebagai tempat sesajen untuk para leluhur. Pada bagian pondasi terlihat menggunakan batang kayu yang ditanam ke dalam tanah, serta bagian dinding dan lantai bangunan dibuat dengan menggunakan papan kayu yang didukung oleh balok-balok kayu. Sementara, rangka atap bangunan rumah adat ini terbuat dari bambu yang diikat menggunakan rotan dan ijuk, serta menggunakan ijuk dan alang-alang sebagai penutup bagian atas rumah adat ini. Pada bagian atas atap terdapat ornamen yang disebut periuk. Terdapat berbagai motif hias pada area sekitar pintu bangunan rumah adat ini serta bagian atasnya, salah satu motif hias yang digunakan yakni motif hias hiasan kepala, hiasan kepala tersebut biasa digunakan oleh masyarakat setempat saat berlangsungnya suatu upacara.

 

  • Meriam 1

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/01
  • Tempat  penyimpanan   : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Panjang : 105 cm
    • Diameter pangkal : 19 cm
    • Diameter ujung  : 11 cm
  • Bahan  : Logam
  • Warna  : Coklat
  • Kondisi  : Utuh
  • Periode/masa : Kolonial
  • Deskripsi : Merupakan meriam yang diletakkan di depan akses jalan menuju halaman kampung adat todo. Meriam berbentuk menyerupai tabung dengan pegangan di samping kiri dan kananya,  pada bagian ujung dengan ukuran yang lebih kecil. Terdapat empat motif  hiasan melingkar dari bagian pangkal hingga ujung meriam, serta terdapat ornamen mahkota belanda dan tulisan ”S.J.S”. Pada beberapa permukaan meriam dalam kondisi korosi (karatan).

 

  • Meriam 2

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/02
  • Tempat  penyimpanan   : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
  • Panjang : 102 cm
  • Diameter pangkal   : 20 cm
  • Diameter ujung : 15 cm
  • Bahan : Logam
  • Warna  : Coklat
  • Kondisi: Utuh
  • Periode/masa : Kolonial
  • Deskripsi : Merupakan meriam yang diletakkan di depan akses jalan menuju halaman kampung adat todo. Meriam berbentuk menyerupai tabung dengan pegangan di samping kiri dan kananya, pada bagian ujung dengan ukuran yang lebih kecil. Terdapat empat motif  hiasan melingkar dari bagian pangkal hingga ujung meriam, serta terdapat tulisan ”S.J.S” pada bagian pangkal meriam dalam kondisi telah aus. Beberapa permukaan meriam dalam kondisi korosi (karatan).

 

  • Meriam 3

  •  Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/03
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Panjang : 100 cm
    • Diameter pangkal  : 19 cm
    • Diameter ujung : 14 cm
  • Bahan : Logam
  • Warna : Coklat
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa : Kolonial
  • Deskripsi : Merupakan meriam yang diletakkan di depan akses jalan menuju halaman kampung adat todo. Meriam berbentuk menyerupai tabung dengan pegangan di samping kiri dan kananya, pada bagian leher dengan ukuran yang lebih kecil dari bagian ujungnya. Terdapat empat motif  hiasan melingkar dari bagian pangkal hingga ujung meriam, serta terdapat ornamen mahkota belanda dan beberapa tulisan yakni ”E.L.C” ”H_CRAZE_ROOKSON_C_  LIVERPOOL”. Beberapa permukaan meriam dalam kondisi korosi (karatan).

 

  • Meriam 4

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/04
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Panjang  : 155 cm
    • Diameter pangkal : 15 cm
    • Diameter ujung : 16 cm
  • Bahan : Logam
  • Warna  : Coklat
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa : Kolonial
  • Deskripsi : Merupakan meriam yang diletakkan di depan akses jalan menuju halaman kampung adat todo. Meriam berbentuk menyerupai tabung dengan ukuran yang lebih besar dari meriam lainnya, pada bagian leher dengan ukuran yang lebih kecil dari bagian ujungnya. Meriam ini dibuat polos tanpa ada motif hias dan tulisan. Beberapa permukaan meriam dalam kondisi korosi (karatan).

 

  • Meriam 5

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/05
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
  • Panjang : 115 cm
  • Diameter pangkal : 60 cm
  • Diameter ujung : 36 cm
  • Bahan  : Logam
  • Warna  : Coklat
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa : Kolonial
  • Deskripsi : Merupakan meriam yang diletakkan di depan akses jalan menuju halaman kampung adat todo. Meriam berbentuk menyerupai tabung dengan pegangan di samping kiri dan kananya,  pada bagian ujung dengan ukuran yang lebih kecil. Terdapat empat motif  hiasan melingkar dari bagian pangkal hingga ujung meriam, serta terdapat ornamen mahkota belanda dan tulisan ”S.J.S”. Beberapa permukaan meriam dalam kondisi korosi (karatan).

 

  • Menhir 1 (Kedok Muka)

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/06
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Lebar : 29 cm
    • Tinggi : 83 cm
    • Tebal  : 16 cm
  • Bahan : Ansedit (Colummnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : Prasejarah (tradisi megalitik)
  • Deskripsi : Merupakan batu tegak dengan bentuk persegi empat yang berada di atas permukaan compang. Pada salah satu sisi menhir terdapat motif kedok muka (menyerupai wajah manusia). Pada masa lalu khususnya masa prasejarah, kedok muka dianggap/diyakini memiliki kekuatan gaib sebagai pengusir roh-roh jahat (pengaruh negatif). Sementara, menhir merupakan batu tegak yang difungsikan sebagai media pemujaan terhadap roh leluhur pada masa prasejarah yakni berkembangnya tradisi megalitik terkait dengan kepercayaan masyarakat terhadap roh seseorang yang telah meninggal diyakini tidak hilang, melainkan masih ada di alam lain.

 

  • Menhir 2

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/07
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Lebar : 25 cm
    • Tinggi : 72 cm
    • Tebal : 10 cm
  • Bahan : Ansedit (Colummnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : Prasejarah (tradisi megalitik)
  • Deskripsi : Merupakan batu dengan bentuk persegi empat yang memanjang berdiri tegak. Menhir ini dibuat polos tanpa adanya motif hias. Pada masa lalu difungsikan sebagai media pemujaan terhadap roh leluhur. Menhir dengan kondisi telah aus dan ditumbuhi lichen.

 

  • Menhir 3

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/08
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Panjang : 20 cm
    • Lebar : 16 cm
    • Tinggi : 93 cm
  • Bahan : Ansedit (Colummnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : Prasejarah (tradisi megalitik)
  • Deskripsi : Merupakan batu dengan bentuk persegi panjang dalam keadaan terlentang. Menhir ini dibuat polos tanpa ada motif hias. Pada masa lalu difungsikan sebagai media pemujaan terhadap roh leluhur. Menhir dengan kondisi telah aus dan ditumbuhi lichen.

 

  • Menhir 4

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/09
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Lebar  : 20 cm
    • Tinggi : 56 cm
    • Tebal : 10 cm
  • Bahan  : Ansedit (Colummnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : Prasejarah (tradisi megalitik)
  • Deskripsi : Merupakan batu tegak dengan bentuk yang tidak beraturan, serta lebih kecil dari menhir yang lainnya. Pada menhir ini tidak terdapat motif hias (polos). Pada masa lalu difungsikan sebagai media pemujaan terhadap roh leluhur. Menhir dengan kondisi telah aus dan ditumbuhi lichen.

 

  • Menhir 5

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/10
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Lebar : 23 cm
    • Tinggi : 45 cm
    • Tebal : 13 cm
  • Bahan : Ansedit (Colummnar)
  • Warna : Abu-abu
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : Prasejarah (tradisi megalitik)
  • Deskripsi : Merupakan batu tegak dengan bentuk dasar persegi empat yang tidak beraturan. Pada menhir ini tidak terdapat motif hias (polos). Pada masa lalu difungsikan sebagai media pemujaan terhadap roh leluhur. Menhir dengan kondisi telah aus dan ditumbuhi lichen.

 

  • Menhir 6

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/11
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Lebar : 16 cm
    • Tinggi : 12 cm
    • Tebal : 7 cm
  • Bahan : Andesit
  • Warna : Abu-abu
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : Prasejarah (tradisi megalitik)
  • Deskripsi : Merupakan batu tegak dengan bentuk dasar persegi empat yang tidak beraturan. Menhir ini memiliki ukuran yang lebih kecil dari menhir lainnya, serta tidak terdapat motif hias (polos). Pada masa lalu difungsikan sebagai media pemujaan terhadap roh leluhur. Menhir dengan kondisi telah aus dan ditumbuhi lichen.

 

  • Menhir 7

  •  Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/12
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Lebar : 20 cm
    • Tinggi : 29 cm
    • Tebal : 10 cm
  • Bahan : Andesit
  • Warna : Abu-abu
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : Prasejarah (tradisi megalitik)
  • Deskripsi : Merupakan batu tegak dengan bentuk yang tidak beraturan. Menhir ini memiliki ukuran yang lebih kecil dari menhir lainnya, serta tidak terdapat motif hias (polos). Pada masa lalu difungsikan sebagai media pemujaan terhadap roh leluhur. Menhir dengan kondisi telah aus dan ditumbuhi lichen.

 

  • Menhir 8

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/13
  • Tempat  penyimpanan : Kampung Adat Todo
  • Ukuran :
    • Lebar : 28 cm
    • Tinggi : 33 cm
    • Tebal : 7 cm
  • Bahan : Andesit
  • Warna : Abu-abu
  • Kondisi : Utuh dan tidak terawat
  • Periode/masa : Prasejarah (tradisi megalitik)
  • Deskripsi : Merupakan batu tegak dengan bentuk persegi empat pipih. Pada menhir ini tidak terdapat motif hias (polos). Pada masa lalu difungsikan sebagai media pemujaan terhadap roh leluhur. Menhir dengan kondisi telah aus dan ditumbuhi lichen.

 

  • Lokeng Gerang (Gendang)

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/14
  • Tempat  penyimpanan : Niang Mbowang (Kampung Adat Todo)
  • Ukuran :
    • Tinggi  : 24 cm
    • Diameter atas : 27 cm
    • Diameter bawah : 24 cm
  • Bahan : Kulit perut manusia, Kayu dan Ijuk
  • Warna  : Coklat kehitaman
  • Kondisi  : Tidak utuh
  • Periode/masa : –
  • Deskripsi : merupakan sebuah gendang dengan kondisi yang tidak utuh, pada bagian atasnya telah pecah. Gendang atau yang disebut oleh masyarakat dengan lokeng gerang berbentuk bulat dengan pinggang pada bagian bawah, serta bagian atasnya berukuran lebih besar dari bagian bawahnya. Pada badan gendang serta bagian bawahnya terdapat tali ijuk yang diikat secara melingkar. Gendang ini memiliki cerita yang sangat berarti bagi Kerajaan Manggarai, khususnya masyarakat adat kampung Todo dikarenakan gendang dibuat dari kulit seorang wanita cantik yang sakti, serta diperebutkan oleh tiga kerajaan pada masa itu. Gendang ini sangat disakralkan oleh masyarakat kampung Todo yang dijadikan sebagai benda pusaka dikarenakan memiliki nilai penting serta merupakan warisan turun temurun dari leluhur mereka terdahulu.

 

  • Pedang 1

  • Nomor Inventarisasi  : 1/16-08/BND/15
  • Tempat  penyimpanan : Niang Mbowang (Kampung Adat Todo)
  • Ukuran :
    • Panjang : 76 cm
    • Lebar : 10 cm
  • Bahan : Kuningan dan Kayu
  • Warna : Kuning kecoklatan
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa : Kolonial
  • Deskripsi : Merupakan pedang dengan bentuk panjang yang melengkung, pada bagian luarnya dilindungi dengan sarung yang terbuat dari kayu dengan motif hias garis-garis. Pada bagian pegangan dari pedang berbentuk seperti salib. Pedang ini sangat disakralkan oleh masyarakat di kampung Todo sebagai benda pusaka.

 

  • Pedang 2 (Sumpak)

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/16
  • Tempat  penyimpanan : Niang Mbowang (Kampung Adat Todo)
  • Ukuran :
    • Panjang : 74 cm
    • Lebar : 11 cm
  • Bahan : Kuningan
  • Warna : Kuning kecoklatan
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa : Kolonial
  • Deskripsi : Merupakan pedang dengan bentuk lurus, tipis dan memanjang, serta runcing pada bagian ujungnya. Bagian pegangan dari pedang ini dibuat berbentuk pipih yang salah satu sisinya terdapat ornamen melengkung. Pada pegangan tersebut terdapat motif hias yang menunjukkan ciri pengaruh dari budaya asing, serta beberapa bagian sumpak dalam kondisi korosi (karatan). Pedang ini sangat disakralkan oleh masyarakat di kampung Todo sebagai benda pusaka.

 

  • Pedang 3

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/17
  • Tempat  penyimpanan : Niang Mbowang (Kampung Adat Todo)
  • Ukuran :
    • Panjang : 65 cm
    • Lebar : 9 cm
  • Bahan : Kuningan dan Kayu
  • Warna : Coklat
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa : –
  • Deskripsi : Merupakan pedang dengan bentuk lurus dan memanjang, pada salah satu sisi merupakan tajamannya dengan bentuk bergerigi, serta memiliki ujung yang tajam. Pada bagian pegangannya dibuat menggunakan kayu dengan bentuk cekungan polos, tanpa ada motif hias. Beberapa bagian pedang dalam kondisi korosi (karatan). Pedang ini sangat disakralkan oleh masyarakat di kampung Todo sebagai benda pusaka.

 

  • Parang 1

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/18
  • Tempat  penyimpanan : Niang Mbowang (Kampung Adat Todo)
  • Ukuran :
    • Panjang : 84 cm
    • Lebar : 5 cm
    • Bahan : Besi
  • Warna : Kuning kecoklatan
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa : –
  • Deskripsi  : Merupakan parang dengan bentuk lurus dan runcing pada kedua bagiannya, menyerupai bentuk pedang. Tidak terdapat pegangan pada parang ini (telah hilang), salah satu bagiannya dengan ukuran lebih kecil dan lancip dari bagian lainnya. Parang dalam kondisi korosi (karatan) pada beberapa permukaannya. Parang ini sangat disakralkan oleh masyarakat di kampung Todo sebagai benda pusaka.

 

  • Parang 2

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/19
  • Tempat  penyimpanan : Niang Mbowang (Kampung Adat Todo)
  • Ukuran :
    • Panjang : 79 cm
    • Lebar : 5 cm
  • Bahan : Besi
  • Warna : Kuning kecoklatan
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa  : –
  • Deskripsi : Merupakan parang dengan bentuk lurus dan runcing pada kedua bagiannya, menyerupai bentuk pedang. Tidak terdapat pegangan pada parang ini (telah hilang), salah satu bagiannya dengan ukuran lebih kecil dan lancip dari bagian lainnya. Parang dalam kondisi korosi (karatan) pada beberapa permukaannya. Parang ini sangat disakralkan oleh masyarakat di kampung Todo sebagai benda pusaka.

 

  • Parang 3

  • Nomor Inventarisasi : 1/16-08/BND/20
  • Tempat  penyimpanan : Niang Mbowang (Kampung Adat Todo)
  • Ukuran :
    • Panjang : 67 cm
    • Lebar : 4 cm
  • Bahan : Besi
  • Warna : Kuning kecoklatan
  • Kondisi : Utuh
  • Periode/masa : –
  • Deskripsi : Merupakan parang dengan bentuk agak melengkung dan runcing pada kedua bagiannya, menyerupai bentuk pedang. Tidak terdapat pegangan pada parang ini (telah hilang), salah satu bagiannya dengan ukuran lebih kecil dan lancip dari bagian lainnya. Parang dalam kondisi korosi (karatan) pada beberapa permukaannya. Parang ini sangat disakralkan oleh masyarakat di kampung Todo sebagai benda pusaka
BAGIKAN
Artikulli paraprakSitus Kampung Adat Todo
Artikulli tjetërSitus Kampung Adat Pongkor
Balai Pelestarian cagar Budaya Bali Wilayah Kerja prov. Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur Jalan Raya Tampaksiring, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali 80581 Telepon (0361) 942347, Fax (0361) 942354 e-mail: bpcbbali@kemdikbud.go.id dan bp3_bali@yahoo.com

TINGGALKAN KOMENTAR