Bangunan Bekas Bank Dagang Belanda (Nederlands Indische Handelsbank) di Situs Pelabuhan Kolonial Ampenan

0
228

Bangunan ini berlokasi di Pantai Ampenan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, dengan titik koordinat UTM Zona 50 L 0397913 9052563. Bangunan Bekas Bank Dagang Belanda (Nederlands Indische Handelsbank) memiliki gaya arsitektur indische yang merupakan wujud percampuran arsitektur Belanda dengan arsitektur lokal (tropis). Fasad depan bangunan terdapat dua pintu masuk menghadap ke selatan, dua pintu ini berada di kiri dan kanan yang dimana pada sisi kiri (barat) memiliki ukuran tinggi 2,50 m dan lebar 3 m dengan pintu bertipe harmonika besi sedangkan pintu sisi kanan (timur) terbuat dari material kayu bertipe sorong dengan variasi bukaan ayun. Pintu ini memiliki ukuran tinggi 2,35 m dan lebar 1,80 m dan terdapat teralis besi yang memisahkan pintu bagian luar dan dalam.

Terdapat 13 buah jendela yang terletak pada bagian Utara berjumlah 2 (dua), Selatan berjumlah 6 (enam), Barat berjumlah 2 (dua), dan Timur berjumlah 3 (tiga). Jendela memiliki bentuk geometris dan simetris. Jendela secara keseluruhan memiliki ukuran tinggi 2,45 m dan lebar 1,50 m dengan tipe sorong dan variasi jendela rangkap. Bukaan daun jendela merupakan variasi ayun dengan arah bukaannya ke luar serta terdapat teralis besi yang berfungsi untuk memisahkan jendela luar dan jendela dalam dengan penambahan lapis daun jendela kaca transparan pada sisi bagian dalam.

Pada salah satu pilar bangunan (pilar sisi barat) mengalami keretakan yang kemungkinan terjadi akibat gempa lombok tahun 2018. Lantai bermaterialkan tegel (ubin) berwarna abu-abu dengan ukuran 20 x 20 cm dan juga tegel (20 cm x 20 cm) berwarna kuning yang dipasang mengikuti pola ragam hias tepi. Bagian atap mengadaptasi arsitektur lokal berupa jenis atap perisai (limasan) dengan penutup atap dari genteng. Pada bagian atap khususnya plafon mengalami pengelupasan cat dan beberapa sudah mengalami kerusakan. Bagian dinding dalam bertekstur halus dilapisi cat berwarna putih, sedangkan dinding bagian luar dilapisi cat berwarna coklat muda. Pada sisi bagian barat terdapat ruang tambahan (baru) yang dulunya digunakan sebagai cafe/bar oleh pemilik bangunan.

Bangunan Bekas Bank Dagang Belanda
(sumber foto : Komunitas Lombok Heritage Sciene & Society)

Di dalam bangunan terdapat bunker yang menurut informasi lokal mengatakan dulunya difungsikan sebagai tempat penyimpanan aset bank (pendokumentasian pada ruang bunker tidak dapat dilakukan dikarenakan ruangan tersebut tertutup). Bangunan bekas bank dagang belanda ini telah beberapa kali mengalami adaptasi dan revitalisasi terkait pemanfaatan dan pengembangan bangunan ini, mulai dari pemanfaatannya sebagai kantor Bank Indonesia, cafe/bar, hingga kini sebagai tempat jual beli barang ex-villa/hotel.

Foto Bangunan Bank Dagang Belanda (selatan)
Foto salah satu pintu dari bangunan Bank Dagang Belanda
 

Kemenangan orang-orang liberal di Belanda pada tahun 1848 telah menimbulkan politik haluan baru yang berdasarkan liberalisme. Tokoh-tokoh politik seperti Van Dedem, Van Kol, Van Deventer, dan Brooschooft telah meminta kepada pemerintah Belanda agar memperbaiki nasib Bangsa Indonesia. Demikianlah ketika Belanda baru berkuasa di Nusa Tenggara Barat dimulai dengan politik etikanya dengan memperhatikan kesejahteraan, kecerdasan, dan ekonomi rakyat. Permasalahan mulai muncul ketika pemerintah Belanda melakukan pembangunan dengan pengerahan daya dan pengumpulan dana dari rakyat. ini menimbulkan pemberontakan akibat keresahan sosial yang disebabkan dengan pemaksaan pajak yang berat hingga kerja rodi yang telah menyinggung kehormatan rakyat.

Pihak belanda memberikan kekuasaan kepada pribumi dan tangan-tangan penguasa pribumi untuk memungut pajak hingga kerja rodi dengan paksaan. Rakyat yang dikenakan kerja rodi hanyalah rakyat kaula saja, sedangkan para bangsawan, pejabat, pemuka agama, dan para haji dibebaskan dari kerja rodi. Untuk melindungi rakyat dari rentenir maka, pemerintah Belanda mendirikan Rumah Gadai di Ampenan, dan beberapa bank diantaranya Volkscredietbank, Balisch Volkscredietbank, dan Nederlands Indische Handelsbank. Fungsi Nederlands Indische Handelsbank saat itu sebagai monopoli pihak belanda perihal hasil bumi di pulau lombok hingga membantu permasalahan keuangan dan perekonomian kolonial Hindia Belanda yang memburuk pasca bangkrutnya VOC.