Analisis Iklim Mikro pada Ruang Display Museum Bikon Blewut

0
559

Pengamatan kondisi iklim mikro koleksi di museum bikon blewut mencakup perekaman data suhu dan kelembaban di ruang koleksi dengan menggunakan datalogger merk Extrech RHT 20. Pengambilan data dilakukan mulai tanggal 21 Mei 2022 pukul 10.38 sampai dengan tanggal 24 Mei 2022 pukul 15.49. Datalogger diletakkan pada vitrin sub fosil tengkorak florensis. Hasil perekaman data suhu dan kelembaban ruang koleksi museum bikon blewut nampak seperti gambar dibawah ini.

Berdasarkan grafik suhu dan kelembaban diatas dapat dilihat bahwa suhu rata-rata adalah 29,06 °C, suhu terendah adalah 27,6 °C dan suhu tertinggi adalah 30,6 °C. sedangkan kelembaban rata rata adalah 70,22%, kelembaban terendah adalah 66,6 % dan kelembaban tertinggi adalah 74,5%. Pada tanggal 21 Mei merupakan puncak kelembaban tertinggi kemungkinan dikarenakan pada saat itu cuaca sedang panas, lembab dan tidak hujan. Berdasarkan Rekomendasi dari The National Park Service Museum Handbook Temperature yang tepat untuk penyimpanan koleksi fosil yaitu 20-21oC (Hitcock, 2000). Sedangkan temperature yang tepat untuk penyimpanan koleksi fosil maupun kenyamanan pengunjung yaitu 15-25 oC (Hitcock, 2000) dan relative humidity (RH) yang tepat untuk penyimpanan koleksi fosil yaitu 45-55 % (Hitcock, 2000).

Ruang koleksi dan ruang simpan sebaiknya dibuat tertutup dan menggunakan AC secara kontinyu dikarenakan koleksi museum bikon blewut sangat beraneka ragam mulai dari material berbahan organic (kain, kayu, sub fossil) dan koleksi berbahan anorganik (gerabah, fosil, alat batu). Masing- masing koleksi memiliki standart yang berbeda dalam hal penyimpanan dikarenakan materialnya berbeda. Koleksi yang memiliki material organic cenderung lebih rentan mengalami kerusakan akibat kondisi iklim mikro yang tidak tepat. Sebaiknya dipasang alat datalogger sebagai pemantau suhu dan kelembaban, apabila suhu dan kelembaban terpantau melebihi ambang batas koleksi dapat dilakukan pengaturan alat pendingin ruangan.

Tulang sub fosil sangat rentan terhadap sedikit perubahan dalam lingkungan. Dalam kondisi kelembaban relatif tinggi (RH), tulang rentan mengalami pembengkakan dan penyusutan. Ada juga kemungkinan biodeteriorasi, seperti pertumbuhan jamur di atas 70% RH (Buttler C.J.,2015:9). RH rendah dapat menyebabkan pengeringan dan penyusutan, yang menyebabkan retak dan pecahnya tulang. Perubahan suhu dan kelembaban juga akan menyebabkan kerusakan yaitu retak dan cracking pada struktur fosil. Cara paling efektif untuk melindungi material tulang sub-fosil adalah menyimpannya dalam kondisi lingkungan yang stabil yaitu pada kelembaban relatif 50-55% dan temperatur 18-22 ° C (Buttler C.J., 2015:12). Fluktuasi RH dapat menyebabkan kerusakan fisik pada koleksi, dapat terjadi karena koleksi secara bergantian menyerap atau melepaskan kelembaban, menyebabkan pembengkakan atau penyusutan. RH yang tinggi juga dapat meningkatkan oksidasi dan korosi mineral tertentu, seperti pirit besi. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kondisi ruang penyimapanan fosil belum baik untuk kenyamanan pengujung maupun koleksi. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan yaitu dengan menambahkan silica gel pada vitrin tempat penyimpanan fosil.

Kondisi suhu dan kelembaban yang tinggi di museum ini kemungkinan yang menyebabkan beberapa kerusakan koleksi dan gedung museum akibat faktor perusak biotis seperti serangga yang terdapat di dalam koleksi dan beberapa rumah rayap di bagian dinding bangunan museum maupun di storage.

Rumah rayap di sepanjang dinding di ruang display
Rumah rayap yang menjalar di dinding storage

Kondisi iklim miko ruang display Museum Bikon Blewut dalam kondisi kurang baik sehingga perlu dilakukan pengendalian iklim mikro. Tindakan-tindakan yang dilakukan yaitu melakukan pengukuran dan pengendalian lingkungan miko di vitrin display Museum Bikon Blewut. Salah satu cara pengendalian lingkungan mikro pada koleksi yang disimpan di dalam vitrin adalah dengan pemasangan silika gel. Silika gel berfungsi untuk menyerap kelembaban di dalam vitrin agar meminimalisir kerusakan koleksi. Desain vitrin untuk koleksi sebaiknya dibuat yang kedap udara namun tetap harus menyediakan kondisi kelembaban relatif yang stabil. Desain vitrin dibuat removable sebagai akses untuk meletakkan silika gel (Cronyn J.M., 1990: 73). Sebaiknya desain vitrin senantiasa tertutup, namun pada bagian bawah objek, alas vitrin dibuat berlubang-lubang yang dibawahnya diletakkan silika gel. Box silika gel ini bisa diakses agar pergantian silika gel untuk direkondisi tetap berlangsung.

Apabila warna silika gel telah berubah, hal tersebut menjadi petunjuk bahwa silika gel telah menyerap kelembaban dan apabila akan digunakan lagi, maka harus dilakukan rekondisi, dengan memanaskan di dalam oven dengan suhu antara 125 – 150 C (W. Steven, 2002 :1). Dengan pemasangan silica gel untuk koleksi yang diletakkan di dalam vitrin di harapkan dapat meminimalisir kerusakan koleksi.