You are currently viewing Profil Situs Biaro/Candi Sipamutung, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara

Profil Situs Biaro/Candi Sipamutung, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara

Profil Situs Biaro/Candi Sipamutung, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara Oleh: Ambo Asse Ajis Pramubakti Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh

Situs Biaro/Candi Sipamutung berada di Desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. Secara astronomis, situs ini berada di koordinat 1˚23’34” LU 99˚45’15” BT dengan luas areal ± 6.000 m2 dan luas bangunan + 3.480 m2. Batas-batas situs, antara lain: sebelah Utara berbatasan dengan pagar situs dan kebun masyarakat, sebelah Selatan berbatasan dengan pagar situs dan kebun masyarakat, sebelah Barat berbatasan dengan pagar situs, pintu masuk situs dan kebun masyarakat, dan sebelah Timur berbatasan dengan pagar situs dan kebun masyarakat.

Situs ini telah teregistrasi sebagai Cagar Budaya dengan nomor RNCB.20111017.04.000428 dan telah mendapatkan penetapan dari kementerian dengan SK Menteri NoPM.88/PW.007/MKP/2011 dan pada saat ini dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh.

Situs Biaro/Candi Sipamutung dalam kondisi terawat, memiliki fasilitas pelindungan berupa pagar situs, papan nama situs, papan larangan, meunasah dan juru pelihara. 

Registrasi Nasional Biaro/Candi Sipamutung

Kondisi terkini Situs Biaro/Candi Sipamutung (Sumber: TACB Kabupaten Padang LawasTahun 2018 dan Balai Arkeologi Sumatera Utara)

Lokasi situs berada di persimpangan sungai Batang Pane dengan sungai Barumun. Komponen biaro yang masih ada saat ini, antara lain: biaro induk, tembok bata, gapura atau gerbang pintu masuk dan temuan lain. Berikut deskripsinya:

  1. Biaro Induk dan Biaro Perwara

Biaro induk terbuat dari bata menghadap ke timur dengan denah bujur sangkar berukuran 11 X 11 meter serta tinggi 13 meter. Secara vertikal profil biaro terdiri atas batur, kaki, badan, dan atap biaro. Batur tingginya 2,25 meter, kaki biaro tinggi 1,25 m. Terdapat tangga naik pada penampil di sisi timur. Profil yang terlihat pada kaki biaro adalah persegi empat dan sisi genta.

Tubuh biaro berbentuk persegi empat dengan pintu masuk di sisi timur, Kumai bawah dan atas biaro berupa birai rata (patta). Pada bilik biaro tidak dijumpai arca. Atap biaro berbentuk segi empat bertingkat tiga. Pada bentuk aslinya tingkat paling bawah di setiap sisinya dihiasi 5 stupa, pada tingkat kedua di setiap sisi dihiasi 4 stupa, dan pada tingkat paling atas berupa satu stupa yang lebih besar dari pada stupa-stupa di bawahnya.

Namun karena kerusakan yang dialami maka atap biaro ini hanya tinggal 7 fragmen stupa saja, yaitu pada atap sisi utara. Sedangkan kemuncak atap sudah tidak ada.

  1. Biaro Perwara A

Biaro Perwara A terletak 4 meter ke arah timur dari biaro Induk. Bangunan ini berdenah segi empat dengan ukuran 10,25 X 9,90 meter, tinggi 1,15 meter. Bangunan tersebut terbuat dari bata yang berbentuk batur pendopo (mandapa).

  1. Biaro Perwara B

Biaro Perwara B terletak 5 meter ke arah utara dari Biaro Induk, terbuat dari batu pasir (sandstone), berdenah segi empat, dan mempunyai tangga masuk pada keempat sisinya. Biaro perwara B berukuran 11,60 X 10,60 meter, dengan tinggi 2,10 meter, berupa bagian “kaki” biaro yang terlihat jelas profil kumai bawah yang sangat mirip dengan profil candi Jawa Tengah. Kumai bawah terdiri dari birai rata (patta), birai padma dan birai setengah lingkaran (kumuda) (Suleiman 1976: 20). Terdapat umpak-umpak penyangga tiang yang berderet di setiap sisi. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa tiang bangunan menggunakan kayu dan atap bangunan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama. Di bagian atas biaro tersebut terdapat arca singa yang nampaknya tidak insitu, karena arca singa biasanya terletak di kanan kiri pintu sebagai penjaga.

  1. Biaro Perwara C

Biaro Perwara C terletak di selatan Biaro Induk, terbuat dari bata yang berbentuk kaki biaro. Biaro tersebut mempunyai tangga naik di sebelah timur dengan 7 anak tangga dan di bagian atasnya terdapat semacam altar dari bata berbentuk curciform ben-tuk curciform merupakan pengolahan lebih lanjut dari segi empat menjadi 16 sudut).

Pada kaki (kumai bawah) biaro tersebut dihiasi birai padma dan birai rata (patta).

  1. Biaro Perwara D

Biaro Perwara D terletak di selatan Biaro Perwara C, terbuat dari bata, berupa bagian kaki biaro. Biaro tersebut mempunyai tangga naik di sebelah timur dengan 8 anak tangga dan di bagian atasnya terdapat semacam altar dari bata berbentuk curciform. Pada kaki biaro tersebut (kumai bawah) dihiasi birai padma, birai setengah lingkaran (kumuda) dan birai rata (patta).

  1. Biaro Perwara E

Biaro Perwara F terletak di sebelah tenggara biaro induk, terbuat dari bata berbentuk mandapa setinggi 1 meter, dengan dua tangga berada di timur dan barat.

  1. Tembol Bata

Pagar keliling mengelilingi sisi selatan, barat, utara, dan timur biaro, terbuat dari bata dengan lebar 1 meter dan tinggi 50 cm.

  1. Gapuran atau Pintu Masuk

Gapura biaro berada di sisi timur, hanya tersisa setinggi 1 meter sehingga tidak diketahui apakah gapura ini semula berbentuk paduraksa atau candi bentar

  1. Temuan lain berupa makara, fragemen arca dan arca.

Luas keseluruhan Biaro Si Pamutung 1 x 2 kilometer. Terdiri atas kompleks biaro dan benteng tanah yang mengelilinginya. Kompleks Biaro terpencil ditengah padang ilalang dan semak belukar lebat. Halamannya dikelilingi pagar tembok ukuran 49 x 65 meter, tebal 1,1 meter membujur arah barat timur dengan gerbang masuk di sisi timur.

Di halaman yang dikelilingi pagar tembok ada satu bangunan induk, enam bangunan perwara menghadap ke timur, enam biaro kecil, satu gapura, dan artefak lain seperti arca Bhairawa dari batuan tufa. Bangunan itu disusun dalam dua baris mengarah timur-barat

Di baris belakang kompleks berdiri biaro induk diapit tiga bangunan kecil. Di baris depannya ada tiga bangunan kecil. Beberapa meter di depannya di pagar keliling ada reruntuhan gapura pintu masuk. Biaro induk berdiri di atas kaki berdenah bujursangkar ukutan 11 x 11 meter dengan tinggi 3,1 meter.

Tangga naik di sisi timur dengan 15 anak tangga. Di kiri dan kanan ada pipi tangga. Penampil di tangga naik kaki bangunan menjorok ke timur sejauh sembilan meter. Kaki bangunan tersebut mempunyai profil berupa bingkai segi empat dan sisi genta.

Di atas kaki bangunan ada kaki badan bangunan berdenah bujursangkar ukuran 8,2 x 8,2 meter dan tinggi 1,45 meter. Ada tangga naik ke bilik bangunan yang merupakan sambungan tangga naik di kaki bangunan.

Disini ada lorong mengelilingi kaki tubuh bangunan dengan pagari setinggi 50 cm.  Tubuh bangunan berdiri di atas kaki tubuh bangunan. Denah tubuh bujursangkar berukuran 5,7 x 5,7 meter dengan tinggi 4,6 meter.

Di sisi timur ada penampil yang merupakan tangga naik ke bilik bangunan. Di beberapa tempat di bagian luar badan bangunan ada hiasan sulur daun. Hiasan tersebut mengelilingi tubuh bangunan. Atapnya berdenah bujursangkar sisinya empat meter bertingkat tiga. Sebagian besar atap rusak yang tersisa tujuh fragmen stupa di sisi utara.

Di bagian yang tersisa (sisi utara) di puncaknya ada hiasan stupa. Tinggi atap yang tersisa 2,45 meter. Bagian atap dibuat bertingkat di setiap tingkatnya ada lantai tempat stupa kecil. Di halaman Biaro Si Pamutung ditemukan dua arca yang cukup besar dengan tinggi 1,5 meter. Arca tersebut adalah arca Mahakala dan Nandiswara dan beberapa arca lainnya.

Selain itu, di Kompleks Percandian Biaro Si Pamutung tersebar arca-arca baik utuh maupun 

Foto Arca Percandian Biaro Si Pamutung  (Sumber: TACB Kabupaten Padang Lawas Tahun 2018 dan Balai Arkeologi Sumatera Utara)

Di beberapa tempat di bagian luar badan bangunan biaro/candi ada hiasan sulur daun. Hiasan tersebut mengelilingi tubuh bangunan. Atapnya berdenah bujursangkar sisinya empat meter bertingkat tiga. Sebagian besar atap rusak yang tersisa tujuh fragmen stupa di sisi utara.

Di bagian yang tersisa (sisi utara) di puncaknya ada hiasan stupa. Tinggi atap yang tersisa 2,45 meter. Bagian atap dibuat bertingkat di setiap tingkatnya ada lantai tempat stupa kecil.

Di halaman Biaro Si Pamutung ditemukan dua arca yang cukup besar dengan tinggi 1,5 meter. Arca tersebut adalah arca Mahakala dan Nandiswara dan beberapa arca lainnya.

Selain itu, di Kompleks Percandian Biaro Si Pamutung tersebar arca-arca baik utuh maupun fragmentaris. Dari data di atas dapat diperkirakan bahwa candi ini merupakan peninggalan abad ke-9 sampai dengan ke-13 Masehi dari agama Budha yang pernah ada di Kabupaten Padang Lawas.

Penetapan sebagai Cagar Budaya

Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Padang Lawas Tahun 2018 melihat objek ini memiliki potensi sebagai cagar budaya yang diutamakan di Kabupaten Padang Lawas. Kedudukannya sebagai peninggalan masa lalu bisa menjadi sumber pelajaran tentang betapa megahnya Bandar Panai di masa lalu.

Secara kesejarahan, Situs Biaro/Candi Sipamutung menunjukan diaspora agama Budha aliran Vajrayana yang sampai di tengah Pulau Sumatera. Kehadiran ajaran agama ini erat kaitannya dengan keberadaan perdagangan yang menghubungkan Sriwijaya-Cola (India)- melalui jalur Panai-Barus dan Panai-Pesisir Timur Selat Malaka. Perdagangan yang sangat marak di sungai-sungai Panai dengan komoditas duia (barus, Damar, kemenyan, emas dan sebagainya) di masa lampau mendorong kehadiran masyarakat Budha Vajrayana hadir diantara kekuasaan politik Sriwijaya.

Secara ilmu pengetahuan, Situs Biaro/Candi Sipamutung mewariskan Ilmu pengetahuan tentang arsitektur percandian yang secara tipologi berbeda dengan candi-candi lainya di nusantara. Demikian juga keletakannya yang selalu berdekatan dengan sungai, menegaskan kedudukan Situs Biaro/Candi Sipamutung selalu dekat dengan aktivitas perdagangan.

Arti khusus bagi pendidikan, bahwa kekayaan data yang ada di Situs Biaro/Candi Sipamutung bisa menjadi bahan ajar yang sangat baik dalam berbagai bidang seperti: sejarah, arkeologi, arsitektur, perdagangan, politik, militer dan lingkungan kuno, sosial budaya serta ekonomi perdagangan, kajian kawasan, bahkan regional yang mengaitkan pengembangan dan pemanfataan potensi ekonomi tempat ini. Bahkan di masa kini, berbagai sumber daya alam yang masih ada tersebut masih berpotensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan di masa kini.

Dari berbagai penjelasan di atas,  disimpulkan bahwa Situs Biaro/Candi Sipamutung sangat layak dijadikan sebagai cagar budaya karena kedudukannya sangat diutamakan di Kabupaten Padang Lawas.

Selain itu, juga memenuhi unsur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya khususnya pasal 5 yang menyebutbenda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Demikian juga isi Pasal 44 bahwa cagar budaya dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya peringkat kabupaten/kota apabila memenuhi syarat sebagai Cagar Budaya yang diutamakan untuk dilestarikan dalam wilayah kabupaten/kota mewakili masa gaya yang khas, tingkat keterancamannya tinggi dan jenisnya sedikit; dan/atau jumlahnya terbatas.

Karena itu, Tim Ahli Cagar Kabupaten Padang Lawas Tahun 2018 merekomendasikan kepada bapak Ali Sutan Harapap, selaku Bupati Padang Lawas agar Situs Biaro/Candi Sipamutung dapat ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Kabupaten Padang Lawas.

Tinggalkan Balasan