Pewaris dari Keluarga Pewakaf Haji Habib bin Buja’ al-Asyi, silaturahmi ke Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh

0
1611

Pewaris dari Keluarga Pewakaf Haji Habib bin Buja’ al-Asyi, silaturahmi ke Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh

BPCB Aceh, 25/1/2019. Jumat, pukul 10.00 WIB bertepatan tanggal 25 Januari 2019, salah seorang keluarga dari pewakaf H. Habib Bugak Al-Asyi yang sangat terkenal karena tanah wakafnya untuk orang Aceh yang beribadah ke Mekkah, mengunjungi Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh.

Muhammad Junaidi bin Hamzah, keluarga dari pewakaf Haji Habib bin Buja’ al-Asyi

Kerabat Haji Habib bin Buja’ al-Asyi tersebut, bernama Muhammad Junaidi bin Hamzah, berkunjung seorang diri dengan membawa sejumlah dokumen penting, kinjungan ini  bertujuan silaturahmi dan bertukar pikiran tentang sejarah yang terkait Haji Habib bin Buja’ al-Asyi.

Menurut Pak Junaidi (nama sapaan), kunjungan ke Kantor BPCB Aceh bukanlah kunjungan mendadak melainkan sudah direncanakan jauh hari. Menurutnya, tokoh Haji Habib bin Buja’ al-Asyi sangat fenomenal di Aceh dan di Mekkah sehingga sejarah dan warisannya baik itu warisan materi dan non materi adalah sesuatu yang perlu dijaga sepanjang masa.

Pada kesempatan itu, Bambang Sakti Wiku Atmojo (Kepala BPCB Aceh) dan Toto Harryanto (Kasi PPP) menyambut baik silaturahmi ini dan berharap komunikasi akan berlanjut  dalam rangka memperkuat pemahaman kesejarahan dan pemahaman akan warisan yang telah dititipkan oleh Haji Habib bin Buja’ al-Asyi.

 Di sisi yang lain, Muhammad Junaidi bin Hamzah selaku keluarga pewakaf Haji Habib bin Buja’ al-Asyi menyampaikan keluh kesahnya tentang adanya hasil penelitian yang bermaksud menyamakan seorang Haji Habib bin Buja’ al-Asyi menjadi Said Abdurrahman bin Alwi. Padahal menurut beliau, kedua orang ini jelas berbeda. Perbedaan mendasarnya, Haji Habib bin Buja’ al-Asyi itu meninggal di tanah suci sementara Said Abdurrahman bin Alwi itu meninggal di Bugak, Kabupaten Bireun.

Diskusi dan silaturahmi berjalan lancar selama 1,5 jam yang dimulai dari pukul 10.00 WIB dan berakhir pukul 11.30 WIB. Sebelum diskusi dan silaturahmi berakhir, Kepala BPCB Aceh berharap, perbedaan pemahaman para pihak di tuangkan dalam tulisan karena perdebatan tersebut merupakan bagian sejarah yang sangat penting bagi orang Aceh. Dan, karena itulah sejarah tersebut harus di tulis dengan bukti-bukti yang otentik. Ambo

Naskah salinan dari naskah asli Wakaf Haji Habib bin Buja’ al-Asyi