Observasi Awal Temuan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) di Area Pembangunan Gerbang Tol Baitussalam, Desa Lambada Lhok, Kecamatan Baitussalam,Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, 2021

0
433

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Aceh menerima laporan masyarakat pada tanggal 7 Februari 2021 terkait temuan objek diduga cagar budaya (ODCB) di Gampong Lambada Lhok yang terkena dampak pembangunan jalan tol, tepatnya di gerbang tol Baitussalam yang berada di Gampong (Desa) Lambada Lhok Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Laporan dari masyarakat ini diperkuat lagi dengan informasi dan laporan secara lisan yang disampaikan oleh Akademisi/Arkeolog di Aceh yaitu Dr. Husaini Ibrahim dan oleh Mawardi Usman (Komunitas Peusaba) yang telah melakukan survei terhadap temuan pada tanggal 8 dan 10 Februari 2021. Berdasarkan informasi yang didapatkan, Kepala BPCB Provinsi Aceh menugaskan tim yang dipimpin oleh Andi Irfan Syam untuk melakukan observasi awal ke lokasi temuan dan koordinasi kepada pihak terkait pada tanggal 11 Februari 2021.

Hasil Observasi Awal

Terdapat 2 (dua) informasi yang kurang valid yang telah diberitakan di media cetak dan elektronik yaitu nama lokasi temuan dan nama pintu tol. Lokasi temuan yang diinformasikan di media yaitu di Gampong Kajhu, namun saat dikonfirmasi kepada Kepala Desa (Gampong) lokasi temuan berada di Gampong Lambada Lhok. Selain itu, nama pintu tol yang sebelumnya diberitakan Pintu Tol Kajhu, saat dikonfirmasi dengan pihak pelaksana pembangunan jalan tol, nama pintu tol ini adalah Gerbang/Pintu Tol Baitussalam.

Hasil observasi awal terhadap temuan di area pembangunan Gerbang Tol Baitussalam, tim mendapatkan 5 (lima) sebaran kelompok makam yang merupakan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). 5 (Lima) kelompok makam tersebut yaitu:

  • Kelompok makam I terletak di koordinat 5°36’29.5″N 95°23’19.8″E dan berada di sisi selatan jalan dan di atas tanah gundukan yang mencirikan sebagai makam era Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam kelompok makam ini terdapat 6 (enam) nisan kuno periode Islam (utara-selatan). Dari ketiga makam tersebut, hanya 1 (satu) makam yang masih insitu sedang lainnya terkena dampak penataan lahan. 2 (dua) nisan berbentuk bulat bersudut delapan (oktagonal) dan pipih dengan bahan batu pasir (sandstone).
  • Kelompok Makam II terletak di koordinat 5°36’30.3″N 95°23’21.3″E dengan ketinggian yang sama dengan Kelompok Makam I juga berada di sisi selatan jalan. Pada kelompok makam ini terdapat 4 (empat) buah nisan dengan satu nisan masih insitu sedang lainnya sudah terkena penataan lahan. Nisan yang ditemukan berbentuk bulat (silindris) dengan bahan andesit dalam kondisi tergeletak diatas permukaan tanah dan nisan berbentuk pipih dengan bagian atas terdapat lengkungan dengan bahan andesit dalam posisi masih tertancap ditanah.
  • Kelompok Makam III terletak di koordinat 5°36’29.3″N 95°23’18.5″E dengan ketinggian yang sama dengan kelompok nisan sebelumnya yang berada di sisi utara jalan. Terdapat 6 (enam) nisan yang terlihat dipermukaan dengan ukuran yang besar dibanding dengan nisan lainnya dan 1 (satu) badan makam (jirat), namun sudah tidak insitu yaitu tergelatak diatas permukaan tanah. Pada komplek makam ini, nisan berbentuk bulat (silindris) dengan tonjolan bulat di bagian atasnya dari bahan andesit.
  • Kelompok Makam IV terletak di 5°36’29.3″N 95°23’18.0″E dan berdasarkan keletakannya di sisi utara jalan, dimungkinkan menjadi 1 (satu) kelompok makam dengan Kelompok Makam III. Kelompok makam ini tidak terkena dampak penataan gerbang/pintu tol, namun terkena dampak gelombang tsunami pada tahun 2004 sehingga beberapa nisan di area ini diperkirakan sudah tidak berada di posisi awalnya (tidak insitu) dalam keadaan tergeletak diatas permukaan tanah. Terdapat satu nisan dan satu makam dengan jirat dan masih insitu, jirat pada makam ini berbahan batu pasir (sandstone).
  • Kelompok makam V terletak di koordinat 5°36’28.0″N 95°23’17.3″E dengan ketinggian yang sama dengan kelompok makam lainnya berada di sisi utara jalan. Terdapat 2 (dua) nisan dipermukaan dengan satu nisan berukuran relatih lebih besar dibanding lainnya. Dua nisan ini terkena dampak langsung penataan pintu tol. Nisan berbentuk bulat (silindris) berbahan batu andesit.

Setelah melakukan observasi terhadap temuan, tim melakukan koordinasi dengan Kepala Gampong Lambada Lhok (Abdul Kadir), unsur pelaksana pembangunan jalan tol dan unsur dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh. Berdasarkan hasil koordinasi tersebut didapatkan informasi sebagai berikut:

  1. Sebelum pelaksanaan pembangunan tol, pihak pelaksana pekerjaan sudah melakukan koordinasi dengan pihak terkait setempat dan tidak mendapat data terkait adanya makam kuno di area pembangunan jalan dan pintu tol;
  2. Area sebaran temuan nisan tidak termasuk dalam area jalan dan pintu tol, namun tersingkap dan terkena imbas karena adanya proses pembersihan lahan sekitar pintu tol;
  3. Sebagian makam khususnya kelompok makam III, IV, dan V sudah mengalami proses transformasi yang diakibatkan oleh dampak bencana gempa dan tsunami pada tahun 2004 dan penggunaan lahan sebelum peristiwa tsunami tahun 2004;
  4. Pihak Disbudpar Aceh akan melakukan kegiatan eskavasi arkeologi di beberapa titik di lokasi tersebut sebagai bagian dari kegiatan observasi lanjutan; dan
  5. Akan diadakan pertemuan lebih lanjut dengan seluruh pihak terkait untuk menindaklanjuti upaya pelindungan ODCB tersebut.

Berdasarkan hasil observasi awal dengan melakukan perekaman data dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, diketahui terdapat 5 (lima) kelompok makam kuno yang saat ini dicatat sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) di lokasi pembersihan pintu/gerbang tol Baitussalam. Menurut Undang-Undang RI No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya pada Pasal 23, disebutkan bahwa penemuan objek diduga cagar budaya harus diperlakukan selayaknya sebagai cagar budaya, sehinggah Tim observasi dari BPCB Aceh menyampaikan secara langsung kepada pihak pelaksana pekerjaan jalan tol untuk sementara menghentikan aktifitas pembersihan diareal yang memiliki potensi ODCB di lokasi tersebut. Disarikan dari berbagai sumber referensi, wilayah lokasi temuan ODCB tersebut termasuk wilayah pesisir yang terdampak berat oleh bencana gempa dan tsunami pada tahun 2004. Berdasarkan gejala pola sebaran nisan dan keletakannya, mengindikasikan adanya proses transformasi baik oleh alam maupun manusia. Secara umum, berdasarkan bentuk dan atribut pada tipe nisan yang ditemukan berada pada periode kurun abad ke-17 sampai dengan abad ke-18 M yang menandakan era Kesultanan Aceh Darussalam, sehinggah kawasan ini merupakan wilayah yang memiliki signifikansi pada kurun waktu tersebut. Data awal hasil observasi ini selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan kegiatan pemetaan dan deliniasi untuk merumuskan model pelindungan terhadap sebaran ODCB tersebut.(timobservasiodcb/mita/nrd)

TINGGALKAN KOMENTAR