KOMPLEKS SITUS RUMAH ADAT DAN KURSI BATU PARHAPURAN HUTA SIALLAGAN KAB. SAMOSIR

0
1528

KOMPLEKS SITUS RUMAH ADAT DAN KURSI BATU PARHAPURAN HUTA SIALLAGAN KAB. SAMOSIR

Kompleks situs Rumah Adat dan Kursi Parhapuran Huta Sialagan terrletak di Huta Siallagan ambarita Kecamatan Simalindo Kabupate Samosir. Secara geografis wilayah kecamatan terletak pada titik koordinat 2˚30’-2˚45’ Lintang Utara dan  98˚45’-98˚55’ Bujur Timur dengan luasan wilayah ±198,20 km² dengan ketinggian 931 m diatas permukaan laut.

Pulau Samosir memiliki banyak peninggalan megalitik dan tempat bersejarah yang unik dan menarik untuk dikunjungi para wisata local maupun manca negara, salah satunya di Kompleks situs Rumah adat dan kursi Batu Parhapuran Huta Siallagan yang berada  di Kampung Ambarita.

Huta kampung adalah sebuah kelompok rumah yang berdiri di sebuah kawasan yang dihuni oleh beberapa keluarga yang terikat dalam satu kerabat. Huta ini dibangun sebagai identitas yang akan menjelaskan asal usul kekerabatannya, maka selanjutnya huta akan dinamai sebagai huta marga. Begitu pula halnya dengan marga Siallagan (turunan Raja Naiambaton garis keturunan dari Raja Isumbaon anak ke-2 Raja Batak). Mereka membangun sebuah huta/perkampungan yang dinamakan Huta Siallagan dan dipimpin oleh Raja Siallagan.

Didalam Komplek ini ada tiga rumah yaitu Rumah Bolon, Rumah Siamporik, dan Rumah Sibola Tali. Rumah Bolon bentuknya lebih besar, tangga dari dalam dan dihuni oleh raja dan anaknya, Rumah Siamporik, bentuknya lebih kecil, tangga dari luar, dihuni oleh keluarga yang diundang tinggal dihuta itu (boru, bere dan marga siallagan yang bukan keturunan raja), sedangkan rumah sibola Tali bentuknya lebih langsing dan kecil, dihuni oleh kerabat raja (anak laki-laki) bedanya dengan rumah bolon adalah anak sulung laki-laki yang berhak tinggal dan memilikinya. Di dalam halaman huta terdapat pohon hariara (jenis pohon lokal) sebagai tempat pemujaan (parulubalangan = tempat sesajen). Pemujaan ini dilakukan pada saat acara menanam padi, acara panen padi dan acara adat lainnya (perkawinan dan pesta besar) (Siallagan:BPCB Aceh:2016:20)

Dalam Kompleks ini (huta Siallagan) juga terdapat batu kursi atau batu persidangan dan batu parhapuran, dan dikelilingi tembok batu setinggi 1,5 meter. Batu persidangan ini merupakan tempat raja Siallagan zaman dahulu mengadili penjahat. Di samping kursi persidangan tumbuh pohon yang disebut sebagai pohon kebenaran, karena semua keputusan pengadilan yang diambil raja disampaikan atau disumpahkan ke pohon ini. (Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kab. Samosir:2015:4) Batu kursi ini dibangun kira-kira pada generasi ke-3 dan ke-4, kira-kira 500 tahun lalu. Jumlah batu kursi tiga buah besar, 6 buah kecil, dan meja 1 buah. (sumber : Kajian pemanfaatan BPCB Aceh 2018).

Tinggalan Megalitik memiliki nilai :

  • Nilai Penting Sejarah: khususnya sejarah lokal dalam menegakkan hukum, dan adat istiadat suku batak pada masa lalu, masa kini dan masa depan.
  • Nilai Penting Ilmu Pengetahuan : bagaimana membentuk sebuah perkampungan, mendirikan rumah, melindungi huta dari serangan musuh dan membentuk lahan pertanian (disusun batu batu) serta membuat wadah kubur (sarkofagus)
  • Nilai Penting kebudayaan : nilai estetik yang terkandungan seni rupa, seni hias, seni bangun, seni suara dan kesenian seni hias pada rumah adat yang memiliki makna, dan tradisi penguburan primer dan sekunder yang turun temurun. Situs ini merupakan objek wisata sejarah dan museum terbuka.
  • Nilai Penting Pendidikan : media pembelajaran sejarah dan gambaran terhadap siswa pewarisan nilai-nilai luhur kepada generasi muda dalam menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap kebesaran bangsa dan tanah airnya.

Pemanfaatan situs sebagai tempat penjualan souvenir/kios Dok. BPCB Aceh, 2018

TINGGALKAN KOMENTAR