Kompleks Makam Papan Tinggi di Kecamatan Barus Utara Kab. Tapanuli Tengah (Sumut)

0
6516

Aceh Besar, 10 Nop. 2020. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh melaksanakan kegiatan Monitoring Juru Pelihara ke Kabupaten Tapanuli Tengah, kegiatan ini merupakan yang perdana dilaksanakan selama Covid 19.  Monitoring tersebut bertujuan untuk memantau, evaluasi kinerja Jupel serta pemeliharaan dan pelestarian cagar budaya pada situs-situs tinggalan masa lampau yang ada di Kabupaten Tapteng.

Situs-situs yang dikunjungi tim Monitoring BPCB Aceh antara lain:  Kompleks Makam Papan tinggi, Benteng Belanda, Makam Tuan Ambar, Kompleks Makam Raja-raja Sorkam, Makam Mahligai, Makam Tuan Machdum, Makam Tuan Ibrahim Syah dan Benteng Belanda. Dari semua situs-situs yang terpelihara masing-masing ditempati dengan juru pelihara yang berjumlah 8 (delapan) orang yaitu 7 orang yang dibiayai BPCB Aceh atau Kemendikbud dan 1 orang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tapteng

Tim Monitoring BPCB Aceh juga mengunjungi temuan arca yang merupakan penanganan kasus di puncak bukit desa Jago-jago Kabupaten Tapanuli Tengah yang didampingi 2 (dua)orang staf  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Ibu Tambah Kabid. Kebudayaan Tapteng. dan Bapak Damaik, informasi Ibu Tambah di Desa Jago-Jago ini banyak sekali tinggalan-tinggalan purbakala yang belum terungkap keberadaannya dan beliau berharap untuk melakukan penelitian di wilayahnya supaya tinggalan-tinggalan tersebut yang masih tersembunyi dapat terungkap untuk delestarikan.

Kompleks Makam Situs Papan Tinggi

Kompleks Makam papan Tinggi berada di puncak bukit  Desa Penanggahan, Kecamatan Barus Utara Kabupaten Tapanuli Tengah dengan ketinggian  +3000 meter dari permukaan air laut Secara geografis terletak pada titik koordinat UTM 47 N 0435446 E 0225319. Luas Kompakes Makam ini 40 x 15 meter yang dikelilingi pagar setinggi 160 cm. Status tanah yang digunakan adalah tanah negara dengan batas areal sebagai berikut:

  • Sebelah Utara berbatasan dengan semak belukar dan perbukitan;
  • Sebelah Timur berbatasan dengansemak belukar dan perbukitan;
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan semak belukar;
  • Sebelah Barat berbatasan dengan semak belukar.
Tangga Makam Papan Tinggi

Untuk menuju ke Makam papan tinggi kita melewati jalan setapak melalui jalan desa sekitar ± 200 meter dari jalan raya, kemudian menaiki tangga yang berjumlah 708 anak tangga, angka ini di hitung oleh tim monitoring BPCB Aceh bulan November 2020. Juga makam papan tinggi  dikenal dengan  makam 1000 tangga, memang sangat melelahkan dan pada umumnya pengunjung lokal maupun pengunjung mancanegara sebelum menaiki  tangga tersebut berfikir  mampukah mencapai ke puncak ? namun tidak perlu menyerah karena masyarakat sudah membangun 4 (empat) tempat peristihatan di setiap 150 anak tangga.

Makam papan tinggi ini berada di desa Penanggahan Kecamatan Barus Utara dengan menempuh jarak ±  12 km dari Ibu Kota Kecamatan Barus yang dapat di lalui dengan kenderaan roda 4 maupun roda 2 (dua).

Didalamnya Kompleks Makam ini terdapat 7 buah Makam berupa batu nisan tanpa menggunakan Jirat Enam makam terletak dalam satu kelompok. Makam ini terbuat dari batu kali dengan ukuran sebagai berikut: nisan besar mempunyai tinggi 34 cm, lebar 24 cm, dan tebal 16 cm berjumlah 3 buah. Nisan kecil berukuran tinggi 28 cm, lebar 19 cm, dan tebal 14 cm berjumlah 3 buah. Sedangkan 1 (satu) makam lainnya terletak agak terpisah.

Sejarah singkat Makam Papan Tinggi

Diantara 7 makam yang terdapat didalam Kompleks Makam papan Tinggi ini salah satunya dalah Makam Syekh Mahmud beliau adalah seorang pendatang dari Yaman pada abad ke 7 dan juga saudagar dari Arab Persia yang menyebarkan Islam pertama di Indonesia.

Bukti arkeologis menunjukkan kalau Syekh Mahmud adalah seorang pendatang yang telah lama bermukim di Barus.. Sejumlah sumber menyebut, Syeik Mahmud berasal dari Yaman yang hendak melakukan pelayaran ke Samudera Pasai (Aceh). Namun di tengah pelayaran, kapal yang ia tumpangi salah arah dan terdampar di Barus.di Barus, Syaikh Mahmud tidak hanya berdakwah tetapi juga menjadi pedagang dan berbisnis komoditas kapur yang sangat terkenal sejak puluhan abad lalu, bahkan ada yang mengatakan kapur Barus ini sudah dikenal pada masa Firaun.

Pada masanya Beliau sempat ditentang oleh Kerajaan Barus dalam penyebaran Islam di Nusantara hingga akhirnya beliau diasingkan ke Aceh Singkil  dan Beliau tetap menyebarkan Islam selama di Aceh Singkil hingga Agama Islam tersebar luas ke Nusantara.

Cerita tentang penyebaran Agama Islam di Singkil oleh Tuan Syekh Mahmud berkembang pesat  Ketika terdengar oleh Kerajaan Barus, kemudian Raja Barus memanggil kembali Tuan Syekh Mahmud kembali ke Barus dan Sejak saat itu Raja Baruspun memeluk Agama Islam dan Syekh Mahmud diberikan kuasa untuk menyebarkan ajaran Agama Islam di Barus. Nurdin/ (sumber Masyarakat).

TINGGALKAN KOMENTAR