Kemegahan Masa Lalu dan Perwujudan Masa Kini Kota Medan

0
618

Medan, Kemegahan Masa Lalu dan Perwujudan Masa Kini

“.. Mereka mengatakan bahwa di tanah kosong di depan Gereja Katolik Roma, kaum kapitalis berniat untuk membangun sebuah kantor besar yang bersaing dengan gedung Harrison & Crosfield. Jika ini semua terwujud, kita akan melihat dari satu ujung ke ujung bangunan raksasa Kesawan indah, masyarakat Medan akan menghargai ini … “Pewarta Deli, 29 Juli 1917

Medan, sebuah kampung kecil yang berpenduduk 200 jiwa pada 1823, menjelma menjadi kota yang baru sejak dirintis dari tahun 1869 oleh bangsa Belanda. Sejak pemerintahan Belanda menetap di pantai timur Sumatera, Medan telah tumbuh dan berkembang menjadi pusat perdagangan penting bagi tuan-tuan kebun yang mulai membuka perkebunan baru di pinggiran Kota Medan pada akhir abad ke-19. Perusahaan-perusahaan perkebunan membutuhkan tenaga kerja untuk bisnis mereka. Untuk alasan itu, mereka merekrut tenaga kerja dari Jawa dan Cina. Mengapa Jawa dan Cina? Karena tenaga kerja lokal jumlahnya sangat sedikit dan etnis Melayu Deli bukan tipe pekerja yang tertarik menjadi buruh perusahaan perkebunan.

Dengan bantuan perkebunan Belanda dan Pemerintah Hindia Belanda yang menempatkan orang Cina sebagai golongan menengah, maka orang Cina dengan bantuan finansial dari perkumpulan dagang di Penang dan Singapura dan Hongkong telah menguasai kedai dari perkotaan sampai ke desa-desa, membuka toko-toko di kota-kota, membuat sistem ijon kepada nelayan dan petani bumi putera, menjadi leverensir barang produksi import dari Eropa dan Amerika seperti sepeda, kain dan mesin jahit. Awalnya toko-toko yang dimiliki etnis Cina di Kota Medan berada di daerah Kesawan.

(Sumber : http://www.medanradio.com/medan-ku/49-medan-tempo-doeloe/423-chineesche-handels-vereeniging-1910.html)

Kesawan berasal dari kata “Kesawahan”, pergi ke sawah, atau orang belanda membilangnya sebagai”landelijk”(pedesaan). Mereka pindah dari Labuhan ke Kesawan naik kereta lembu, karena jalan penuh lumpur setinggi lutut. Tuan-tuan besar Belanda selain menunggang kuda, ada pula yang ditandu oleh orang-orang tangkapan Belanda melewati jalan darat yang memakan waktu 5 jam dari Labuhan ke Medan.

(Sumber : http://www.medanradio.com/medan-ku/49-medan-tempo-doeloe/252-kesawan-1893.html)

Di sepanjang daerah Kesawan dan sekitarnya ini pihak kolonial Belanda, etnis Cina dan pribumi banyak membangun bangunan-bangunan megah dengan gaya arsitektur eropa. Tata ruang daerah Kesawan menjadi daya tarik tersendiri di Kota Medan saat awal pembangunannya dan masih bertahan sampai saat ini. Inilah sebuah kota mahakarya tuan-tuan kebon Tembakau Deli. Keunikan daerah Kesawan tampak dari bangunan-bangunan modern bergaya Eropa serta bernuansa Inggris. Oleh sebab itu Kota Medan pernah disebut “Paris Van Sumatra”.

Bangunan-bangunan yang dibangun pihak kolonial di Kota Medan dan masih bertahan sampai sekarang, antara lain:

  1. Gedung Standard Chartered

Setelah diangkatnya residen untuk Sumatera di Medan, maka pada tahun 1888 dibangunlah rumah Residen Sumatra timur (Residentie van Sumatra Oostkust). Bangunan ini sekarang dipergunakan oleh Standard Chartered Bank di kompleks hotel Danau Toba dijalan Imam Bonjol. Bentuk bangunan istana residen ini bergaya Eropa Tua dengan luas bangunan 750 m2 dengan tinggi 20m, panjang 30m dan lebar 25m. Bahan bangunan berlantai tegel, dinding batu bata dengan atap genteng.

2. Istana Maimoon

Dengan semakin berkembangnya kota Medan pada waktu itu, maka Sultan Deli yaitu Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pun berniat memindahkan pusat pemerintahannya dari Labuhan ke Medan. Lahan tanah kota Maksum bekas konsesi Mabar-Deli Tua menjadi tempat untuk pembangunan istana. Pada tanggal 8 Zulhijjah 1306 H atau tepatnya tanggal 26 Agustus 1888, Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah meletakkan batu pertama pembangunan Istana Maimoon. Arsitek yang mengerjakan Istana Maimoon ini adalah Kapten TH. Van Erp dari zeni Angkatan Darat KNIL yang juga banyak mendesain bangunan-bangunan besar di Batavia (Jakarta).

(Sumber : http://www.medanradio.com/medan-ku/49-medan-tempo-doeloe/233-pembangunan-paleis-sultan-deli-istana-maimoon.html)

Pada tanggal 9 Syawal 1308 (18 Mei 1891), Istana Maimoon mulai ditempati oleh Sultan Deli, maka berpindahlah pemerintahannya dari Labuhan ke istana Maimoon. Istana Maimoon ini didesain meniru berbagai gaya tradisional istana-istana Melayu yang memanjang di depan dan bertingkat dua. Pola India Islam (Moghul) dan gaya-gaya yang diserap dari Eropa.

3. Rumah Tjong A Fie

Pada tahun 1899, dibangunlah sebuah rumah mewah di kawasan Kesawan. Rumah dengan luas tanah sebesar 6000 m2 dan luas bangunan sebesar 4000 m2 ini adalah milik Tjong A Fie, seorang Mayor Cina, yang jabatannya dinobatkan oleh Belanda padanya pada tanggal 4 September 1885 sepeninggal abangnya, Tjong Yong Hian. Rumah ini berarsitektur khas tradisional Cina, Melayu dan kolonial. Bangunan itu memiliki ukiran kayu yang indah dan memiliki dua patung singa yang terletak di dekat gerbang yang artinya untuk mengusir roh-roh Jahat. Pada tahun 1886, ia memindahkan imperium bisnisnya ke Medan sebagai kota yang baru diproklamirkan menjadi ibukota Sumatera Timur. Saat itu, Medan hanyalah sebuah kampung kecil yang berada di antara Sungai Deli dan Sungai Babura. A Fie membangun rumahnya di Kesawan, di atas bekas persawahan penduduk lokal yang masih banyak pacet, dan kemudian berkembang menjadi pusat bisnis baru. Kutipan Liflet 2016 (BPCB Aceh)

(Sumber): http://www.medanradio.com/medan-ku/49-medan-tempo-doeloe/266-rumah-tjong-a-fie-kesawan.html)

TINGGALKAN KOMENTAR