Kegiatan Konservasi di Kompleks Makam Sultan Ibrahim Syah di Barus Kab. Tapteng Prov. Sumut. BPCB Aceh menangani 16 makam kuno dan 33 objek lepas lainnya (II)

0
969

Kegiatan Konservasi di Kompleks Makam Sultan Ibrahim Syah di Barus Kab. Tapteng Prov. Sumut. BPCB Aceh menangani 16 makam kuno dan 33 objek lepas lainnya (II)

Barus, 29 September 2019. Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh melaksanakan Kegiatan Konservasi di Kompleks Makam Sultan Ibrahim Syah, Desa Bukit Hasang, Kecamatan Barus dan Kompleks Raja-Raja Sorkam di Desa Sorkam Kanan, Kecamatan Sorkam Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara.  Pelaksanaannya di mulai dari tanggal 25 September sampai 6 Oktober 2019, di pimpin oleh Hamdillah (Ketua), Darwis (anggota), Joni Zulfikar (anggota) dan Ambo Asse Ajis (anggota).

Dalam ingatan masyarakat Barus, nama Kompleks Makam Sultan Ibrahim Syah tidak begitu populer. Warga lebih mengenal situs ini dengan nama Tuan Batu Badan. Disebutkan cerita setempat bahwa sejarah Tuan Batu Badan terkait dengan Kerajaan Aceh Darussalam era Sultan Iskandar Muda (1607-1636).[1]

Dalam versi yang lain, Ane Drakard (1988) dalam buku Sejarah Raja-Raja Barus: Dua Naskah dari Barus mengatakan bahwa menurut kronik Barus yang berjudul Sejarah Tuanku Badan,[2] Kesultanan Barus bermula dari berpindahnya anggota keluarga Kesultanan Indrapura ke Tarusan, Pesisir Selatan. Dari sini kemudian mereka pergi ke utara hingga tiba di Barus. Menurut kronik itu, Kesultanan Barus didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah bin Tuanku Sultan Muhammadsyah dari Tarusan, Pesisir Selatan, tanah Minangkabau.[3] Disebutkan kepergian Sultan Ibrahimsyah (Ibrahim) ke Barus setelah ia berseteru dengan keluarganya di Tarusan. Ia pergi menyusuri pantai barat Sumatra hingga tiba di Batang Toru. Dari sini ia terus ke pedalaman menuju Silindung.

Di pedalaman, masyarakat Silindung mengangkatnya sebagai raja Toba-Silindung. Di Silindung, Ibrahim juga membentuk institusi empat penghulu seperti halnya di Minangkabau. Penghulu ini berfungsi sebagai wakilnya di Silindung. Selanjutnya ia menuju Bakara dan menikah dengan putri pimpinan setempat. Dari putri Batak itulah, Sultan Ibrahim memiliki putra yang bernama Sisingamangaraja.[4] Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya ke Pasaribu. Disana masyarakat setempat menanyakan dari mana asalnya dan bertujuan untuk apa datang kesana. Untuk menyenangkan hati raja, Ibrahim menjawab bahwa ia datang dari Bakara dan bermarga Pasaribu. Mendengar kesamaan marganya dengan Ibrahim, Raja Pasaribu sangatlah senang. Ia kemudian meminta Ibrahim untuk tinggal di Pasaribu. Namun Ibrahim merasa bahwa tempat ini tidaklah cocok untuknya. Maka bersama raja dari Empat Pusaran (empat suku) ia pergi hingga tiba di tepi laut. Tempat ini kemudian dinamainya Barus, serupa dengan nama kampung kecilnya di Tarusan, Pesisir Selatan. Disini ia diangkat sebagai raja dengan gelar Tuanku Sultan Ibrahimsyah.[5]

Lokasi Situs Kompleks Makam Sultan Ibrahim Syah

Situs Kompleks Makam Sultan Ibrahim Syah berada di belakang pertokoan bernama Mini Market Gajah Bukit, Desa Bukit Hasang, Kecamatan Barus, kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Posisi situs berada di jalan raya lintas provinsi yang menghubungkan Barus-Aceh. Lokasi situs berada di koordinat 2º01’38”N 98º25’01”E atau UTM 47 N 0435143 BT, E 0224104 LU dengan kondisi terawat dan telah diberi fasilitas pelindungan, seperti: pagar situs, jalan masuk, papan nama dan petugas juru pelihara.

Ukuran lahan situs Kompleks Makam Sultan Ibrahim Syah 10,80 x 16,20 m dengan pintu masuk sebelah sisi timur. Dalam kompleks ini ada 16 (enam belas) buah makam dengan rincian 14 (empat belas) makam dengan nisan yang masih lengkap (berpasangan) dan 2 (dua) buah makam yang nisannya hanya satu saja. Batas-batas situs sebagai berikut:

  • Sebelah utara berbatasan dengan pagar situs, jalan setapak;
  • Sebelah selatan berbatasan dengan pagar situs dan kebun;
  • Sebelah barat berbatasan dengan pagar situs dan tanah kosong; dan
  • Sebelah timur berbatasan dengan pagar situs dan makam umum.

Dari 14 (empat belas) buah makam, ada 7 (tujuh) makam yang memiliki jirat (badan makam), hanya 3 badan jirat yang orisinil dan 4 badan jirat lainnya hanya dipasangi papan batu yang tidak tidak konteks dengan makam.

Nisan kuno di kompleks ini umumnya memiliki pahatan berupa hiasan yang didominasi sulur-suluran dan kelopak bunga di kemuncak nisan. Batu nisan ini ini berasal dari jenis batu pasir (sandstone) yang berwarna coklat keabuan dan jenis batu andesit dengan warna abu-abu keperakan.

Secara keletakan, Kompleks Makam Sultan Ibrahim Syah lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya. Bentang lahan makam ini merupakan bentang lahan buatan atau artifisial sebagaimana bukti adanya pembuatan penahan tanah gundukan berbahan batu karang. Dari tampakan luar, bentang lahan situs ada2 (dua) undakan dengan ukuran undakan pertama (dari dasar tanah) setinggi +30 cm dan undakan kedua setinggi +130 cm. Ambo

Sumber:
[1] Wawancara dengan Kepala Desa Bukit Hasang tanggal 27 September 2019.
[1] Jane Drakard, Sejarah Raja-raja Barus: Dua Naskah dari Barus, Penerbit Angkasa
    dan École Franc̦aise d'Extrême-Orient, 1988
[1] Kathiritahmby-Wells, The Indrapura Sultanate: the Fundatioia of Rise and 
    Decline, from the 16-17 th Centuries, Indonesia, 1976
[1] Jane Drakard, A Malay Frontier: Unity and Duality in a Sumatran Kingdom
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Barus, diakses tanggal 27 September 2019.

 

TINGGALKAN KOMENTAR