You are currently viewing Talkshow Borobudur Compounds Sebagai Warisan Dunia

Talkshow Borobudur Compounds Sebagai Warisan Dunia

Talkshow Borobudur Compounds Sebagai Warisan Dunia

Untuk lebih memperkenalkan Borobudur Compounds Sebagai Warisan Dunia, manfaatnya untuk masyarakat dan upaya pelestariannya maka Balai Konservasi Borobudur (BKB) mengadakan talkshow dalam Kegiatan Pameran Bersama di Museum Benteng Vredeburg. Talkshow yang dilaksanakan pada Kamis, 21 November2019 di awali dengan sosialisasi mow.borobudurpedia.id. Panggah Ardiyansyah menjelaskan tentang proyek pemugaran, nilai penting proyek pemugaran serta signifikasi internasional arsip Memory of the World (MoW). Melalui mow.borobudurpedia.id Balai Konsevasi Borobudur mencoba membangun akses agar masyarakat dapat mengakses data MoW secara mudah. Saat ini kurang lebih 10.000 entitas yang sudah masuk di database,  atau sekitar 10% dari total data yang ada.

Peserta talkshow terdiri dari mahasiswa arkeologi UGM, mahasiswa UIN, siswa SMA dan komunitas, diantaranya Komunitas Malam Museum dan Kandang Kebo. Pada segmen pertama Hary, arkeolog BKB menceritakan sejarah Candi Borobudur dimulai dari proses pemugaran kedua, tokoh-tokoh yang berperan dalam menjadikan Borobudur sebagai warisan dunia, diantaranya Prof. Daud Jusuf dan Prof. Soekmono. Borobudur ditetapkan sebagai warisan dunia karena memenuhi tiga kriteria, yaitu masterpiece, punya bentuk arsitektural yang mengilhami kebangkitan arsitek pada masa Majapahit. Yang paling penting adalah kriteria ke 6, yaitu ada keterkaitan tradisi yang sampai saat ini masih berjalan. Leliek, pengkaji BKB menjelaskan  upaya pemeliharaan Candi Borobudur juga terkait konservasi yang telah dilakukan untuk menjaga kelestarian candi secara fisik. Upaya pemeliharaan juga dilakukan di drainase dan halaman Candi Borobudur.

Erwin Djunaedi sebagai bagian dari komunitas pecinta cagar budaya mengungkapkan, “Borobudur merupakan panggung nilai. Historis, arkeologis, dan politis karena pada saat pemugaran kedua, melibatkan banyak negara. Borobudur juga mengandung nilai keindahan baik dari bentuk candi, reliefnya dan nilai budaya, yang menunjukkan kehidupan nenek moyang khususnya jawa pada abad 8. Semua itu menginspirasi banyak orang.”

Gary Yourdan Herlambang sebagai seorang praktisi komunikasi dan sinema memandang Borobudur ibarat karya film yg sempurna. Cara orang jaman dulu berkomunikasi dengan turunannya, Untuk menunjukkan pada jaman dulu mereka mampu. Dan merupakan pancingan kreatif bagi generasi penerus.

Diakhir talkshow, Dewi Nur Indah Sari Esti Rahayu, selaku moderator menyampaikan bahwa Borobudur adlah buku penuh warna dengan goresan cerita dan budaya bangsa. Borobudur adalah panggung nilai. Mari kita jaga demi kejayaan nusantara. Salam cagar budaya !