Minggu, (09/02/2020) adalah hari dimulainya acara Ruwat Rawat Borobudur 2020. Acara ini merupakan event tahunan yang diinisisasi oleh Sanggar Warung Info Jagad Cleguk Borobudur pimpinan Sucoro. Event ini telah memasuki tahun yang ke-17 kali sejak pertama kali diadakan pada tahun 2003. Seperti diberitakan sebelumnya , kegiatan akan dilaksanakan mulai 9 Februari – 21 April 2020 dan rencananya dilaksanakan dibeberapa lokasi di Kabupaten Magelang, Purworejo, dan Temanggung, Jawa Tengah.

Arak-arakan membawa gunungan sayur untuk dibagikan kepada masyarakat

Pada acara pembukaan, diawali dengan Kirab Budaya yang diikuti ratusan seniman yang akan mengisi kegiatan Ruwat Rawat 2020 lengkap dengan atributnya. Arak-arakan mulai berjalan dari pintu masuk candi di sisi timur, kemudian naik ke halaman candi, dan berkumpul di halaman sisi barat Candi Borobudur. Dalam kirap juga diarak gunungan sayur hasil pertanian sebagai ungkapan rasa syukur yang akan dibagikan kepada masyarakat di sekitar Borobudur.

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemdikbud, Restu Gunawan mengatakan bahwa sangat mengapresiasi kegiatan ruwat rawat yang telah berjalan selama 17 tahun. Dia mengatakan bahwa ruwat rawat telah menjadi ruang sinergitas membangun kebersamaan antara masyarakat, pemerintah baik pusat dan daerah, kelompok seni dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam pemajuan kebudayaan.

“Kalo kita mengacu pada Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan ekosistem budaya sudah mulai terbangun sehingga hal yang kecil ini bisa kita dukung sehingga resonansinya menjadi lebih kuat karena kegiatan ini mampu mempengaruhi kehidupan masyarakat “ ungkap Restu.

“Bagaimana kegiatan berkesenian melibatkan anak-anak sebagai salah satu upaya penguatan karakter melalui kebudayaan, hal lain yang tak kalah penting bahwa melalui kegiatan ini mampu memberikan kebermanfaatan ekonomi kepada masayarakat” tambahnya.

Hal lain yang menjadi perhatian Restu adalah bersatu-padunya para petani yang membagi-bagikan hasil pertanian mereka kepada masyarkat yang menunjukkan keterpaduan antara alam, masyarakat dan lingkungannya.

Sementara itu Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Achmad Husein yang membacakan sambutan tertulis Bupati Magelang mengatakan bahwa kegiatan ruwat rawat dapat memberikan manfaat bagi semua pihak terkait upaya pelestarian dan perlindungan budaya pada Candi Borobudur. Sebagai salah satu tujuan wisata super prioritas tingkat nasional maupun internasional, Borobudur perlu berbenah pada segenap aspek.

Pelestarian cagar budaya memerlukan keseimbangan aspek ideologis, sosial budaya, akademis, ekologis dan ekonomis guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Paradigma baru ini mengubah cara pandang yang semula menitikberatkan kepada pengelolaan situs atau candi menjadi pengelolaan yang berorientasi pada pengelolaan kawasan berikut peran serta masyarakat dan sosial budayanya,” terang Husein.

Ia menambahkan bahwa Candi Borobudur tidak hanya dipandang sebagai cagar budaya semata, namun yang lebih ditekankan adalah sebagai keseimbangan, keserasian serta keselarasan antara Candi Borobudur dengan lingkungannya, baik dengan masyarakat maupun kehidupan seni budaya di sekitarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR