Nilai Penting Atap Kubah dan Denah Oktagonal pada Gereja Blenduk

Bangunan G.P.I.B. Semarang yang lebih dikenal dengan Gereja Blenduk memiliki dua elemen penting pembentuk karakter bangunan, yakni atap kubah dan denah oktagonal. Atap dan denah adalah karakter penting pembentuk arsitektur bangunan. Perubahan bentuk dan bahan dua elemen tersebut pada Gereja Blenduk telah mengindikasikan adanya proses memahami lingkungan tropis pada era kolonial (abad ke-18 sampai ke-19), secara spesifik di Kota Lama Semarang. Melalui pendekatan arkeologi bangunan, penulis hendak mengungkap asal-usul bentuk dua elemen tersebut dan kontribusinya terhadap nilai penting Gereja Blenduk.

Bangunan gereja sangat erat kaitannya dengan pembentukan kota-kota kolonial di Hindia Belanda, terutama pada era V.O.C. Di awal abad ke-18, V.O.C memindahkan kantor Gubernur dari Jepara ke Semarang (Keijzer, 1862: 277). Diduga lokasi Gereja Blenduk terkini sudah ada sejak abad ke-18. Wujud arsitektur Gereja Blenduk berasal dari geometri dasar berupa segi delapan dan kubah, yang tidak lepas dari pengaruh dan dinamika yang terjadi di Belanda dan Batavia. Dengan penelusuran terhadap literatur, arsip digital teks koran, dan data pemindaian laser 3d, didapatkan data-data baru di dalam menginterpretasikan kembali sejarah bentuk bangunan. Dari pendekatan tersebut, penulis hendak menelusuri asal usul dua elemen penting tersebut diadopsi dalam bangunan Gereja Blenduk, sekaligus meninjau ulang narasi arsitektur Gereja Blenduk yang sebelumnya pernah ditulis.

Foto lama Gereja Blenduk setelah direhabilitasi (Nilai Penting Atap Kubah dan Denah Oktagonal pada Gereja Blenduk) (Sumber : Locale Techniek, 1939, Vol. 008, Issue 6)
Foto lama Gereja Blenduk setelah direhabilitasi
(Sumber : Locale Techniek, 1939, Vol. 008, Issue 6)

Artikel selengkapnya silahkan unduh pada tautan berikut

TINGGALKAN KOMENTAR