Ketika pemerintah kolonial Inggris bertahta di pulau Jawa pada tahun 1811-1816, Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles mengirim H.C. Cornelius, seorang insinyur zeni Belanda, untuk melakukan survei dan memetakan Borobudur pada tahun 1814. Dan bukan sebuah kebetulan semata kiranya ketika Cornelius yang ditunjuk untuk mengerjakan tugas ini.

Terlahir di Amsterdam pada tanggal 4 Juni 1774, Cornelius bergabung dengan angkatan laut kerajaan Belanda pada tahun 1790 sebelum kemudian setahun sesudahnya mulai ditugaskan di Hindia Belanda. Ketika sedang bertugas membangun sebuah benteng di Klaten pada tahun 1805, dia mendapatkan perintah dari Gubernur Jenderal VOC untuk Pesisir Jawa Timur Laut, Nicolaus Engelhard, untuk menggambar reruntuhan kompleks percandian Prambanan. Dibantu oleh J.W.B. Wardenaar dan seorang kadet bernama van der Geugten, dia dapat menyelesaikan tugas ini dalam waktu tiga tahun. Ketika Inggris merebut pulau Jawa, dia kemudian ditempatkan di Semarang sebagai Civil Surveyor and Superintendent of Buildings. Berdasarkan latar belakang ini, maka tidaklah mengherankan ketika Raffles mendapatkan kabar tentang keberadaan Candi Borobudur ketika berada di Semarang, dia segera memerintahkan Cornelius untuk segera berangkat ke Magelang.

Ketika tiba di Borobudur, Cornelius tidak dapat segera melakukan pemetaan dan penggambaran. Dia harus menebangi dan membakar pepohonan yang telah menutupi sebagian besar struktur reruntuhan candi ini. Didalam sebuah gambar yang dihasil, dia membubuhkan keterangan bahwa candi ini telah dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Borro-Budoor. Hasil penggambaran ini kemudian diserahkan kepada Raffles dan kemudian menjadi bagian dalam bukunya The History of Java yang terbit pada tahun 1817. Salinan kumpulan gambar tersebut, walaupun tidak lengkap, juga tersimpan di Rijks Museum van Oudheden, Leiden.

Lukisan Borobudur oleh H.C. Cornelius pada tahun 1814 (British Museum)

Penugasan Cornelius dalam mendokumentasikan kepurbakalaan di Jawa tidak hanya terhenti pada Borobudur. Pada tahun yang sama, dia juga dikirim ke Dieng untuk menggambar berbagai candi yang terdapat di dataran tinggi tersebut. Atas jasa-jasanya tersebut, pada tahun 1822 dia mendapatkan pangkat kolonel sebelum kemudian pensiun dari kemiliteran pada tahun 1826. Dia meninggal di Amsterdam pada tanggal 18 September 1833.

TINGGALKAN KOMENTAR