Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan cagar budaya di darat atau air yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan atau kebudayaan. Nilai penting cagar budaya pada esensinya melekat erat dalam fisik (material) cagar budaya. Oleh karena itu, cagar budaya harus dilestarikan untuk menjamin keutuhan fisik dan nilai pentingnya. Oleh karena itu, pada tahun 2020 Balai Konservasi Borobudur (BKB) melakukan kajian penggunaan zat alelopat untuk konservasi cagar budaya (CB) batu.

Sebagaian besar cagar budaya rentan terhadap kerusakan yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya (biotik maupun abiotik). Lingkungan biotik yang mempengaruhi kerusakan cagar budaya meliputi:

  1. Tumbuhan Tingkat Tinggi
    adanya penetrasi akar tumbuhan tersebut terhadap struktur cagar budaya.
  2. Tumbuhan Tingkat Rendah
    Seperti algae, mold, dan lichen (lumut kerak). Tumbuhan ini dapat menyebabkan kerusakan cagar budaya secara fisik dan kimiawi. Adanya penetrasi rhizoid terhadap material cagar budaya dapat menyebabkan kerusakan secara fisik, sedangkan adanya pelepasan senyawa kimiawi dari dalam tubuh tumbuhan tingkat rendah ke material cagar budaya untuk menyerap unsur anorganik yang terdapat pada material cagar budaya dapat menyebabkan kerusakan secara kimiawi.
Pengguanan Bahan Alami untuk Konservasi Cagar Budaya

BKB berupaya untuk membersihkan microflora (sebelum tahun 2009) dengan menggunakan bahan-bahan kimia, seperti AC322 dan Hyvar. Bahan tersebut selain berbahaya bagi manusia juga berbahaya bagi lingkungan sekitar. Mulai tahun 2010 Balai Konservasi Borobudur mengembangkan penelitian tentang penggunaan bahan alami untuk konservasi cagar budaya. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni dkk. (2015) adalah dengan memanfaatkan minyak atsiri untuk membersihkan lichen dan algae pada batuan candi. Kekurangan penggunaan minyak atsiri untuk konservasi cagar budaya batu adalah harga minyak atsiri yang cenderung mahal. Selain itu, minyak atsiri tergolong ke dalam Volatile Organic Compounds (VOC) sehingga sangat mudah sekali menguap.

Penggunaan zat allelopat diharapkan dapat menjadi salah satu alternative untuk mengatasi lichen dan algae. Alelopati merupakan mekanisme komunikasi antara tumbuhan satu dengan lainnya. Pada umumnya komunikasi bersifat menghambat. Alelopat menghasilkan senyawa alelokemikel. Senyawa alelokemikel yang nantinya bersifat menghambat tumbuhan lainnya.

Informasi selengkapnya dapat diunduh pada tautan

Allelokimia Tumbuhan sebagau Alternatif Bioherbisida dalam Upaya Konservasi CB Berbahan Batu Andesit_Destario Metusala
Zat Alelopati Tumbuhan Untuk Konservasi CB Berbahan Batu Andesit_Ari Swastikawati.

TINGGALKAN KOMENTAR