Sri Sultan Hamengkubuwono X: Kebudayaan Adalah Tentang Peradaban, Integritas, dan Moralitas

0
249

D.I. Yogyakarta – Beragamnya kebudayaan di Indonesia rasanya tak perlu dipertanyakan lagi, mulai dari bahasa hingga cagar budaya, dari tari hingga tradisi. Namun rupanya tak hanya itu, bagi Gubernur D.I. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, kebudayaan adalah tentang peradaban, integritas, dan moralitas. Hal tersebut disampaikannya saat membuka rapat pleno bertema “Kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemda Dalam Pengembangan Museum”, dalam rangkaian Pertemuan Nasional Museum (PNM), Rabu (17/5).

Menurutnya, integritas menjadi sebuah prinsip dalam tatanan kebudayaan. “Proses pembangunan integritas dan moralitas bagi saya sangat penting. Bila bicara kebudayaan, berarti kita tidak hanya bicara seni dan tradisi, tetapi juga bicara tentang peradaban dan tentu, integritas dan moralitas,” katanya.

Saya tidak ingin, lanjutnya, Yogyakarta memiliki integritas rendah. “Kita bisa melihat, bagaimana kita bisa lebih menghargai orang kaya dari pada orang miskin yang berintegritas. Seharusnya bangsa ini melihat itu! Integritas tidak bisa ditawar, apalagi dibayar!” tegasnya.

Sulitnya mengajak generasi muda berkunjung ke museum menjadi salah satu contoh nyata kurangnya integritas anak muda terhadap kebudayaan. Banyak hal yang perlu diperbaiki, bukan hanya fisik bangunan museum, tetapi juga mindset museum yang menakutkan dan membosankan harus diubah..

“Pengalaman saya mengharuskan pelajar SD dan SMA masuk museum, susahnya bukan main. Padahal biaya masuknya tidak begitu mahal, bahkan ada yang digratiskan. Begitu berjalan, ternyata yang ‘rewel’ bukan hanya anak didiknya, tetapi ternyata para guru juga. Anak didik kita sebetulnya tidak masalah datang ke museum dan berdialog, tetapi sayangnya, museum bukan bagian dari proses pembelajaran mereka di sekolah. Selama ini, museum bukan menjadi tempat utama dalam kegiatan belajar mengajar. Itu harus diubah. Museum harus menjadi tempat dan pusat informasi dan pembelajaran,” ia menegaskan.

Melihat hal itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X melakukan berbagai cara dalam rangka memajukan museum menjadi lebih bersahabat dengan publik. “Pandangan akan kondisi museum yang menakutkan dan membosankan harus diubah menjadi fun dan friendly. Karena itu, kita coba membuat pameran museum di mall. Kami juga sedang mengupayakan membuat cafe di museum, sehingga pengunjung datang, duduk-duduk, dan membangun suasana yang lebih baik,” paparnya.

Kendati demikian, ia menaruh banyak harapan terhadap museum-museum di daerah, khususnya Yogyakarta untuk terus melakukan pembenahan dan pengembangan, agar dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat. “Kami ingin masyarakat datang ke museum bukan karena terpaksa, tapi karena keinginan dari dirinya sendiri,” tukasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR