Peniliti WBTB BPNB Jogja sedang eksplorasi tari gandrung (foto: Penyuluh Budaya Nasional 2014-Kemdikbud)

Peniliti WBTB BPNB Jogja sedang eksplorasi tari gandrung (foto: Penyuluh Budaya Nasional 2014-Kemdikbud)

Sebagai warga negara Jawa Timur sepatutnya berbangga dan merasa bahagia ketika empat (4) ekspresi kebudayaan yang berada tersebar di wilayah Jawa Timur telah dikukuhkan oleh negara melalu Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai “Warisan Budaya Nasional”. Ke empat ekspresi kebudayaan itu adalah: (1) Reog Ponorogo; (2)Karapan Sape’; (3) Sape sono’ dan (4) Gandrung Banyuwangi. Ke empat ekspresi kebudayaan yang hidup dan berkembang di Jawa Timur tersebut dikukuhkan pada tanggal 17 Desember 2013 (BPNB Jogjakarta).

Keberagaman sejatinya adalah anugerah, setiap keunikannya menyimpan nilai-nilai kultural yang mengajarkan banyak hal untuk menghargai kemajemukan. Sebagai warisan nasional, keempatnya sebagai salah satu simbol kekayaan tradisi Jawa Timur yang masih digelar sepanjang masa. Eksistensi dan dinamika Reog, Karapan sape’, Sape Sono’ dan Gandrung dalam percaturan kesenian di Jawa Timur sangat membanggakan. Setiap bulan Muharam (Jawa:Suro) Kabupaten Panaraga menghelat acara nasional yang cukup spektakuler yakni “Festival Reyog Nasional”, juga Kabupaten Banyuwangi sudah ketiga kali ini menghelat pertunjukan kolosal “Gandrung Sewu” sebagai bentuk manifestasi peneguhan identitas wilayah budaya yang mereka warisi. Karapan sape’ dan Sape Sono di Pulau Madura juga di panggung perhelatan nasional yang telah menjadi primadona destinasi pariwisata dan kebudayaan masyarakat dan pemerintah setempat. Maka tulisan ini kembali untuk berefleksi mengapa empat bentuk kebudayaan itu dipilih untuk mewakili ekspresi kebudayaan yang lain untuk dinominasikan sebagai Warisan Budaya Nasional.

REOG PONOROGO: Dinamika Perjalanannya

Reog Ponorogo (Foto: Istimewa)

Reog Ponorogo (Foto: Istimewa)

Reog merupakan salah satu kebudayaan di Indonesia yang masih terjaga eksistensinya hingga kini. Kesenian tradisional ini memiliki unsur mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Hal tersebut menjadikan daya tarik tersendiri. Sedangkan Ponorogo merupakan kota yang dianggap sebagai asal kesenian Reog. Pada gerbang kota Ponorogo, terdapat sosok Warok dan Gemblak yang merupakan dua sosok tokoh kesenian Reog yang selalu tampil pada saat pertunjukkan berlangsung. Terdapat lima versi yang populer mengenai asal usul kesenian Reog ini, namun diantara kelima versi tersebut yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang merupakan abdi kerajaan pada masa kepemimpinan Bhre Kertabhumi di Kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Pada masa itu Ki Ageng Kutu memberontak dan menyindir raja beserta kerajaannya melalui pertunjukkan kesenian Reog. Dalam pertunjukkan tersebut ditampilkan topeng berbentuk kepala singa dan disebut dengan nama Singa Barong yang melambangkan Sang Raja Kertabhumi. Sedangkan bulu-bulu merak yang tertancap di atas kepala Singa Barong dan menyerupai kipas raksasa melambangkan pengaruh kuat rekan Sang Raja yang berasal dari Cina. Sementara untuk tarian Jatilan yang diperankan oleh para penari Gemblak melambangkan kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit dan berbanding terbalik dengan kekuatan para Warok yang menjadi simbol dari kekuatan Ki Ageng Kutu sendiri dimana para Warok harus menopang topeng Singa Barong dengan berat mencapai 50 kilogram hanya dengan menggunakan giginya.

Menurut legenda yang berkembang di masyarakat Panaraga, kesenian Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri. Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna.

Kesenian Reog yang dipentaskan oleh Ki Ageng Kutu semakin populer di kalangan masyarakat saat itu sehingga hal tersebut membuat Raja Bhre Kertabhumi mengambil tindakan untuk melakukan penyerangan ke perguruan Ki Ageng Kutu dan melarang melanjutkan pengajaran tentang Warok. Sedangkan pementasan kesenian Reog sendiri masih diperbolehkan karena sudah terlanjur menjadi sebuah kesenian yang populer di masyarakat, namun dengan alur baru dalam jalan ceritanya dan penambahan karakter dari cerita rakyat Ponorogo yakni Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit serta Sri Genthayu. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya.

Kesenian Reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu. Ki Ageng Mirah kemudian membuat cerita legendaris mengenai Kerajaan Bantaranangin yang oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo dipercaya sebagai sejarah. Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam. Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reog, yang berasal dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya. Selanjutnya kesenian reog terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kisah reog terus menyadur cerita ciptaan Ki Ageng Mirah yang diteruskan mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Saat ini alur cerita Reog Ponorogo mempunyai versi resmi tentang seorang Raja Ponorogo beserta pasukannya yang terdiri dari Raja Kelono dan wakilnya yang bernama Bujang Anom serta para Warok yang berkeinginan untuk melamar Dewi Ragil Kuning, seorang putri dari Kediri. Namun di tengah perjalanan Sang Raja dihadang oleh pasukan Raja Singabarong dari Kediri yang terdiri dari merak dan singa.

Kesenian Reog biasanya digelar dalam beberapa acara penting seperti pernikahan, khitanan maupun hari-hari besar nasional. Kesenian Reog ini terdiri dari beberapa rangkaian, yang dibuka dengan adegan tarian pembukaan yang berjumlah dua hingga tiga tarian yang disusul dengan tarian inti dimana tarian tersebut tergantung dari acara yang sedang dilaksanakan. Adegan yang terakhir berupa tarian Singa Barong dimana sang penari harus menopang topeng dengan giginya. Topeng tersebut berbentuk kepala singa dan berbulu merak dengan berat dapat mencapai 50 hingga 60 kilogram.

SAPÈ SONO’: Kontestasi Keindahan Sapi di Madura

Kesenian Sapè Sono’ terlahir dari kebiasaan atau budaya tani masyarakat Madura. Masyarakat Madura yang mayoritas adalah para petani, yang tentu saja menggantungkan hidupnya dari hasil lahan pertanian. Kebiasaan masyarakatnya menggunakan jasa sapi pada saat mengolah tanah pertanian dengan cara membajak. Sapi-sapi yang digunakan dalam proses pengolahan tanah pertanian ini umumnya adalah sapi-sapi betina yang disandingkan satu sama lain (berpasangan) untuk menarik nangghale (alat membajak ladang). Berawal dari kebiasaan ini sapi-sapi betina itu tampak nilai gunanya. Kekompakan pada saat menarik nanghale itulah yang kemudian menjadi dasar kesamaan atau kekompakan dalam langkah-langkah sapi betina pada Kesenian Sapè Sono’.

Kebiasaan yang lainnya, yang menjadi penanda terbentuknya Kesenian Sapè Sono’ adalah kebiasaan para petani memandikan atau membersihkan tubuh sapi yang dilakukan setelah selesai membajak. Sapi-sapi dimandikan di kali dekat ladang, digosok sampai tampak bersih kemudian diikatkan pada sepasang kayu atau pohon di sebelah kiri dan kanan sapi. Sapi-sapi tersebut seperti dipajang, dan sipemilik sapi mengamatinya. Kebiasaan-kebiasaan yang mengarah pada terbentuknya Kesenian Sapè Sono’ juga disempurnakan dengan dilangsungkannya kebiasaan memajang sapi-sapi para petani sekitar. Bentuk kegiatan ini, biasa disebut dengan Sapè Taccek.

Sapè Taccek disini pada intinya sekadar memajang sapi pada sebatang penyangga atau potongan pohon bambu, tanpa perlengkapan atau aksesoris. Kebiasaan ini sebenarnya dilatar-belakangi oleh prosesi pemajangan sapi yang dalam posisi berdiri tegap, keindahan tubuh dan warna kulit yang mengkilap (Ensiklopedi Pamekasan; 2010). Sapè Taccek inilah yang juga menjadi cikal-bakal terbentuknya Kesenian Sapè Sono’. Dari aktivitas atau kebiasaan para petani yang spontanitas itulah kemudian kesenian ini menemukan bentuknya. Maka seiring berjalannya waktu, kesenian ini dikenal dengan Kesenian Sapè Sono’.

Daya tarik pada Kesenian Sapè Sono’ ini adalah terdapat pada “kecantikan” sapi-sapi. Artinya sapi-sapi yang dilombakan merupakan sapi-sapi betina pilihan; tampak sehat, berbadan bagus, dengan warna kulit mengkilat. Dan lebih menarik lagi, sapi-sapi betina ini didandani layaknya seorang peragawati. Hampir di sekujur tubuh sapi dilengkapi dengan aksesoris dengan warna yang mencolok (merah, kuning, hijau, keemasan). Sebelum acara inti dimulai, para pemilik sapi mengiringi langkah gemulai sapi sambil menari. Suasananya tampak semakin semarak karena langkah gemulai Sape’ Sono’ ini diiringi dengan musik tradisional Madura bernama Saronen. Keberadaan atau kepemilikan akan sapi, telah memunculkan beragam perilaku atau aktivitas dan kreativitas yang lainnya. Sapi pada akhirnya sedemikian “dihargai”. Sapi dicintai  dipelihara, dirawat, bahkan “didandani” demi memunculkan sebuah nilai yang lebih lagi. Sapi kemudian tak cukup membantu dalam proses pengulahan ladang atau sekadar ditaruh di dalam kandang. Kesenian Sapè Sono’ juga dapat dimaknai sebagai media sosial-budaya masyarakat atau para penikmatnya. Mereka yang datang/menikmati Kesenian Sapè Sono’ adalah para pencinta atau para penggemar. Mereka adalah para pencinta keindahan. Kedinamisan dalam kesenian Sapè Sono’ dapat ditangkap dari keharmonisan gerak dan langkah sapi, berpadu dengan alunan musik Saronen yang Maduraistik itu.

Kemudian aktualisasi Kesenian Sapè Sono’ ini tidak berhenti pada aspek visual atau keindahan tubuh sapi. Eksistensi kesenian ini membawa dampak positif yang lainnya, diantaranya: berfungsi sebagai media silaturrahim para pemilik atau pencinta sapi, sebagai ajang jual-beli sapi, memacu produktivitas peternakan sapi, serta mampu meningkatkan prestise dan status sosial pemiliknya. Sapi bagi orang Madura, telah menjadi bagian terpenting dalam dinamika kultur-sosialnya. Maka Kesenian Sapè Sono’ merupakan sebuah bentuk representasi dan prestise tersendiri bagi orang Madura.

Sape Sono' (foto: Antara)

Sape Sono’ (foto: Antara)

KARAPAN SAPE’: Beradu Dalam Meraih Status Sosial

Karapan sapi sendiri menurut masyarakat Madura adalah adu balap sapi jantan menggunakan kaleles. Kaleles disini merupakan sarana pelengkap untuk dinaiki joki/sais yang menurut istilah Madura disebut tukang tongkok. Sapi-sapi jantan yang akan dipacu dipertautkan dengan pangonong pada leher-lehernya sehingga menjadi satu pasangan. Untuk pasangan sapi kerrap yang berada di sebelah kanan disebut pangluar dan yang sebelah kiri disebut pangdelem. sedangkan orang yang menahan tali kekang sapi sebelum dilepas disebut tukang tambeng. Tukang Getak merupakan orang yang menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba dapat melesat dengan cepat. Tukang Tonja merupakan orang yang bertugas menarik dan menuntun sapi saat perlombaan. Tukang Gubra adalah anggota rombongan yang bertugas bersorak-sorak untuk memberi semangat pada sapi kerrap.

 Macam-Macam Karapan Sapi

  1. Kerrap Keni (Karapan kecil) merupakan karapan sapi yang levelnya se-tingkat Kecamatan saja dengan jarak tempuh sekitar 110 meter. Pemenangnya berhak untuk mengikuti even karapan yang levelnya lebih tinggi lagi.
  2. Kerrap Rajah (Karapan besar) merupakan karapan sapi yang levelnya se-tingkat Kabupaten saja dan pesertanya adalah dari para juara Kerrap Keni dengan jarak tempuh sejauh 120 meter.
  3. Kerrap Karesidenan (Gubeng) merupakan karapan sapi yang levelnya tingkat karesidenan yang diikuti oleh juara-juara dari empat kabupaten di Madura. Tempatnya adalah di Bakorwil Madura yaitu di kabupaten Pamekasan dan tepatnya pada hari Minggu yang merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim karapan.
  4. Kerrap Onjangan (Karapan undangan) merupakan karapan sapi khusus yang pesertanya berasal dari undangan suatu kabupaten yang menyelenggarakannya. Karapan ini biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu atau peringatan syukuran dan sejenisnya.
  5. Kerrap Jar-ajaran (Karapan latihan) merupakan karapan yang dilakukan hanya untuk melatih sapi-sapi kerap sebelum turun ke even yang sebenarnya.

Persiapan Dan Ritual Yang Dilakukan Sebelum Perlombaan Di Mulai

Sebelum dimulai alat-alat yang harus disiapkan diantaranya : kaleles, pangonong, tali pengikat, joki/sais, cambuk, kalung, selendang, air, ember (tempat jamu) serta saronen (alat musik tiup madura) dengan jumlah sembilan orang menggunakan pakaian adat madura. Sebelum lomba dimulai, sapi-sapi ini akan di warm up atau pemanasan terlebih dahulu dengan mengelilingi lapangan yang diiringi oleh saronen, gendang, kelenong dan sebagainya sambil ngijung dan menari (penari remaja). Beberapa menit sebelum dimulai, sapi kerrap tersebut dimandikan kemudian di olesi dengan spiritus yang sudah dicampur balsem dan jahe yang sudah ditumbuk halus. Selain itu sapi juga diberi minuman seperti obat kuat ,ramuan dan jamu rahasia lainnya agar sapi-sapi ini bisa berlari kencang dan kuat. Kaki-kakinya pun dipijat supaya tidak tegang saat perlombaan.

Karapan Sapi Madura (foto:http://thetact.files.wordpress.com)

Karapan Sapi Madura (foto:http://thetact.files.wordpress.com)

Selain sapi kerrap, pemilik sapi juga melakukan ritual khusus untuk menjaga sang sapi agar bisa memenangkan lomba. Karena pemilik sapi berkeyakinan dengan ritual tersebut dapat membebaskan sapi dari serangan gaib pihak lawannya sehingga perlombaan dapat dilakukan dengan kekuatan sebenarnya. Namun ada juga yang beranggapan ritual pemilik sapi juga dapat menambah kekuatan dari sapinya. Anehnya para pemilik sapi ini merasa bahwa hadiah yang dimenangkan nanti bukanlah tujuan utamanya. Melainkan kepuasaan dan gengsi yang didapat apabila memenangkan perlombaan karapan sapi ini. Selain itu juga bisa meningkatkan nilai jual sapi yang menjadi juara karapan sapi ini.

Karapan Sapi Secara tidak langsung tersirat beberapa nilai-nilai moral yang terkandung diantaranya :

  1. Nilai kerja keras: tercermin dalam proses pemilihan dan pelatihan sapi sehingga menjadikan sapi kerrap itu kuat dan tangkas. Untuk menjadikan seekor sapi seperti itu tentunya diperlukan kesabaran, ketekunan dan kerja keras agar bisa menjadi juara.
  2. Nilai kerja sama: tercermin dalam proses permainan atau perlombaan karapan itu sendiri. Yang mana semua elemen baik pemilik sapi, dan beberapa anggota lainnya saling bekerja sama agar tercipta sebuah keharmonisan antara sapi, joki dan anggota lainnya.
  3. Nilai persaingan: tercermin dalam proses selama dalam arena karapan sapi. Persaingan menurut Koentjaranigrat (2003: 187) adalah usaha-usaha yang bertujuan utnuk melebihi usaha orang lain. Dalam konteks ini para peserta permainan karapan sapi berusaha sedemikian rupa agar sapi kerrap-nya bisa berlari cepat dan mengalahkan lainnya.
  4. Nilai ketertiban: tercermin dalam proses permainan karapa sapi itu sendiri. Permainan apa saja termasuk karapan sapi ketertiban sangat diperlukan oleh seluruh peserta dan dengan sabar untuk menunggu giliran sapi-sapinya untuk diperlagakan. Begitupun dengan penonton juga mematuhi aturan-aturan yang berlaku agar perlombaan berjalan lancar dan aman.
  5. Nilai Sportivitas: tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.

 GANDRUNG: Ekspresi Ritus Kesuburan di Banyuwangi

Menurut catatan sejarah, Gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian Gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, Gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari Gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.

GANDRUNG VAN BANJOEWANGI - Gandrung Lanang (foto:Tropen Museum)

GANDRUNG VAN BANJOEWANGI – Gandrung Lanang (foto:Tropen Museum)

Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrung ditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker. Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah Gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan Seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya Gandrung oleh wanita.

Tradisi Gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya Gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari Gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan Gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20. Sebenarnya kesenian Gandrung merupakan suatu wujud tarian terima kasih para masyarakat desa kepada dewi padi atau dewi Sri karena telah melimpahkan hasil panen yang melimpah.

Warisan Budaya Nasional: Menjaga Sebuah Keberadaan

Empat ekspresi kebudayaan di atas telah di tetapkan sebagai warisan budaya nasional oleh Kemdikbud RI melalui pengkajian dan penelitian yang mendalam yang dilakukan oleh tim sembilan WBTB (warisan budaya tak benda) Balai Pelestarian Nilai Budaya Jogjakarta sebagai upt dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penghargaan ini membawa kosekwensi logis bagi Jawa Timur atau Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk tetap menjaga dan melestarikan keberadaanya.

Beberapa kesenian telah menjadi maskot publik bagi pemerintah daerah dimana kesenian itu tumbuh, bahkan telah menjadi milik nasional dalam tanda kutip. Volume pentas pun telah menjadi perayaan festival yang dibiayai dengan pengeluaran anggaran dana yang tidak sedikit. Dinamika tersebut tetap menjadi perhatian pemerintah dalam menjaga eksistensinya baik secara kualitas maupun kuantitas. Penetapan tersebut tentu menjadi beban tanggung jawab bagi semua pihak untuk memeliharanya dan melakukan pewarisan untuk menjaga keberlangsungan dan kelestarian kesenian itu. Terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi, para steakholder sepatutnya melindunginya dengan memberikan alokasi penganggaran yang tetap dan berkelanjutan, dan tidak hanya bersifat insidental. Sekali lagi penghargaan ini menjadi ajang untuk berefleksi bahwa kesenian dan ekspresi kebudayaan tersebut sebagai bentuk kepedulian pemerintah untuk melindunginya.

Bibliografi:

  • Ali, Hasan. 2005. Dari Sawah Turun ke Gandrung dan Kuntulan. Banyuwangi : Jejak edisi ke-empat tahun 2005
  • BS, Hayadi. 1985. Gandrung dan Sejarahnya Asal muasalnya yang Membingungkan. Surabaya : Jawa Pos Edisi Saptu paing 25 Mei 1985
  • http://ariesaksono.wordpress.com.
  • Madura Hidup dengan Budaya Sapeh Sono’ : Sumber: Kompas, Jumat, 20 Februari 2009

 

AMPRI BAYU SAPUTRO S.Sn (Penyuluh Budaya Nasiona Kemdikbud 2014-Jakarta)

AMPRI BAYU SAPUTRO S.Sn (Penyuluh Budaya Nasional Kemdikbud 2014-Jakarta)