Pegiat Budaya: Pulang Membawa Peluang

0
1264

Jakarta-Peserta yang berangkat ke New Zealand dalam misi belajar tata kelola kebudayaan bukanlah orang-orang sembarangan. Sebagai pelaku budaya di daerah masing-masing, tentu mereka tidak berniat pulang dengan tangan hampa.  Bagi mereka perjalanan tiga minggu di New Zealand merupakan kesempatan; kesempatan belajar, meniru, memperluas jaringan, dan membangun kerjasama. Terbukti, banyak peluang tercipta.

Salah satunya adalah Vani, pegiat film. Ditemui dalam acara post event pegiat budaya di Hotel Grandhikan Jakarta, Vani Dias Adi Prabowo mengaku mendapat hasil dari New Zealand. Sutradara muda tersebut telah jauh hari mencari tahu perfilman di New Zealand, khususnya film-film terbaik di negeri Kiwi tersebut dan sutradara-sutradaranya. Dia mencari peluang yang ada untuk melanjutkan studinya. Pencarian tersebut membawa ayah satu anak tersebut kepada salah satu profesor di Universitas AUT yang filmnya telah sukses di berbagai festival di New Zelaand.

Dengan berbagai cara dia berusaha bertemu dengan profesor tersebut. Sampai akhirnya menjelang kepulangan ke indonesia, Vani dapat bertemu. Alhasil, satu langkah awal terbuka untuk melanjutkan studi doktoralnya meski masih banyak tahap yang harus dilalui.

parrisca

Lain dengan Vani, Parrisca Indra mendapat kehormatan diundang dalam New Zealand Dance Festival 2017. Penari asal Pasuruan tersebut rencananya akan tampil dalam festival tahunan pada Oktober mendatang. Tawaran tersebut datang ketika melakukan mentoring di New Zealand Dance Company. Saat itu Parrisca diminta memperlihatkan tarian tradisional dari Indonesia. Pihak New Zealand Dance Company rupanya tertarik.

“Mereka tertarik dengan tekniknya yang berbeda, karena yang saya tarikan kan tari Remo. Tari Remo itu kan teknik kaki, teknik tangan dan teknik mata, mereka merasa kok berbeda” ujar Parrisca menjelaskan alasan dia diundang dalam festival.

Sementara Markus Rumbino, pegiat musik, berencana melakukan kolaborasi dengan salah satu mentornya, Jerome Kavanagh Poutama. Tahun 2017, mereka akan bertemu untuk melakukan kolaborasi musik tradisi.

beni

Beberapa peluang kerjasama dalam bidang-bidang lain juga terbuka, misalnya teater dan museum. Benny Arnas, penulis naskah teater mendapat tawaran penerjemahan dan penerbitan untuk jurnal yang dibuatnya selama di New Zealand. Sedangkan Dwi Cahyono, pemilik Museum Malang Tempoe Doeloe, akan membuka kerjasama pengiriman kurator dengan museum Te Papa Tongarewa Wellington.

Peluang seperti inilah yang diharapkan muncul dari program pegiat budaya. Selain diplomasi budaya, program ini bisa memunculkan efek positif jangka panjang bagi para peserta sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR