Mendikbud: Kebudayaan Harus Jadi Poros Pendidikan Indonesia

0
163

D.I. Yogyakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy secara khusus menghadiri Pertemuan Nasional Museum (PNM) 2017 di hari ketiga. Dalam sambutannya, ia menyampaikan kebudayaan harus menjadi poros pendidikan Indonesia.

“Sumber daya itu bukan hanya manusia dan alam, tapi juga sumber daya budaya. Kebudayaan yang mengatasi pendidikan, bukan pendidikan mengatasi kebudayaan. Harus dibalik. Saya ingin mereformasi desain dan organisasi kurikulum sekolah kita. Tahun ajaran baru nanti, tidak ada pilihan lain untuk bertanggung jawab terhadap urusan bangsa, salah satunya adalah pendidikan karakter,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sumber daya budaya memiliki dua bentuk konkrit, yaitu perpustakaan dan museum. Dua hal tersebut tidak kalah pentingnya dalam upaya menjaga peradaban manusia. “Salah satu tempat belajar tapi bukan di ruang kelas adalah museum. Museum itu sumber belajar, karena itu harus ada ruang pertemuan. Itu kaitannya dengan pendidikan karakter. Pendidikan bukan hanya belajar di kelas, tetapi juga pentingnya pendidikan karakter. Pendidikan karakter untuk sekolah dasar 70%, sekolah menengah 60%,” papar Muhadjir.

Pendidikan karakter bagi anak sekolah dasar dan menengah menurutnya sangat penting. Sebab, kebudayaan tak sekedar bicara tentang tari dan seni suara saja tetapi juga peradaban dan identitas suatu bangsa.

“Kebudayaan juga bicara tentang peradaban. Peradaban adalah proses yang panjang. Bukan sebuah pemberian. Meski Bangsa Indonesia masih tergolong muda, di mana baru merdeka tahun 1945, tapi peradaban harus kita buat dengan cepat. Kami tahu prosesnya tidak cepat, tapi kita harus bergerak cepat!” tegasnya.

Hal tersebut jelas senada seperti yang disampaikan Gubernur D.I Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Rabu, (17/5) lalu. Di mana dalam sambutannya tersebut, ia mengatakan bahwa kebudayaan adalah tentang peradaban dan tentu, integritas dan moralitas. Kesamaan perspektif akan definisi kebudayaan tersebut, diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat pada umumnya untuk dapat lebih melihat museum sebagai salah satu sumber pendidikan Indonesia.

“Museum adalah bentuk pengejawantahan persenyawaan antara jagat dan kesadaran manusia.  Kebudayaan adalah hasil objektivasi dari manusia. Saya berharap, museum berperan penting dalam proses pendidikan kita. Landasan filosofis pendidikan kita harus jelas, salah satunya yakni dari museum. Identitas budaya kita sangat bergantung dari bagaimana kita merawat dan melestarikan sumber daya budaya ini,” tukasnya.

Usai medengarkan sambutan dan arahan dari Mendikbud, seluruh peserta PNM 2017 melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi beberapa museum yang telah ditentukan. Pada malam harinya, para peserta PNM 2017 bersama dengan Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Harry Widianto dan Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Putu Supadma menuju Museum Diponegoro untuk jamuan makan malam dan penyerahan penghargaan kepada almarhum Ki Nayono, atas jasanya yang telah mengabdi kepada museum, sekaligus penggagas dan pendiri Badan Musyawarah Museum (Barasmus).

TINGGALKAN KOMENTAR