Membidik Perupa Muda Kreatif di Sulawesi Tengah

0
121

Palu, Sulawesi Tengah- “Melukis sebisa mungkin jangan rumit namun tetap artisitik. Kalian harus kreatif dan posisi gambar bisa di mana saja karena ini kebutuhannya untuk fesyen, perhatikan komposisinya,” seru perupa Petrus Chrisna Wijaya di hadapan puluhan peserta Workshop Melukis T-Shirt yang rata-rata diikuti oleh siswa/siswi sekolah menengah ini.

Pria yang kerap disapa Petrus ini kemudian berkeliling ke tiap-tiap peserta. Ia memastikan bahwa tidak ada kendala serius yang dihadapi mereka, baik dari penggunaan kuas, tebal-tipisnya goresan cat dan komposisi atau tata letak lukisan.

“Karena mereka masih baru (melukis di atas kaus), jadi saya harus lebih detail menjelaskan bahan, alat supaya mereka bisa mengembangkan sendiri. Terpenting ialah mereka tahu karakteristik dari cat, air dan kuas. Cat ini buat apa, intinya ya seperti itu. Dari sini saya berharap mereka mau mengembangkan lagi lukisannya,” harap Petrus.

Workshop Melukis T-Shirt  merupakan salah satu kegiatan melukis di Pekan Budaya Indonesia-Festival Pesona Palu Nomoni 2017 (PBI-FPPN 2017 ) yang diselenggarakan di Palu, Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Galeri Nasional Indonesia. Ini bertujuan untuk membidik dan mengembangkan potensi para pelukis muda di Sulawesi Tengah. Selain itu, ada pula Lomba Melukis Tingkat SMP Se-Palu bekerjasama dengan Museum Basoeki Abdullah yang digelar di waktu yang bersamaan. Kedua kegiatan ini sama-sama mengajak semua lapisan, khususnya generasi muda, dalam menggali kreativitas di bidang kesenian.

Antusiasme melukis dirasakan oleh Dayu, siswi SMA Negeri 3 Palu yang menjadi salah satu peserta workshop melukis. Baginya, melukis merupakan cara terbaik untuk menuangkan ide-ide yang ada di kepala. “Buat saya melukis itu sama seperti menyanyi, apa yang saya rasakan bisa langsung dituangkan, termasuk ke dalam gambar,” katanya yang sudah senang melukis sejak kecil ini.

Dayu menggambarkan sosok wanita yang diletakkan di atas bunga. Lengkap dengan pemilihan warna-warna cerah yang menjadi karakteristik dari lukisannya. Dirinya mengaku, tak pernah mempersiapkan terlebih dahulu objek-objek yang akan dilukis.  “Semua itu keluar dari pikiran begitu saja jadi bisa dibilang autodidak. Dan saya tipe orangnya suka melukis yang full colour,” tegas dara yang bercita-cita menjadi dosen seni rupa ini.

Beberapa peserta lainnya juga terlihat melukis fenomena alam, tokoh, bunga hingga kaligrafi. Hal yang sama juga terlihat dari hasil karya para peserta melukis Tingkat SMP Se-Palu.

Sebagai perupa, Petrus merasa mengembangkan minat dan bakat melukis anak-anak muda di Sulawesi Tengah mampu menjadi peluang tersendiri dalam meningkatkan kemandirian. Termasuk di dalamnya mengembangkan produk ekonomi kreatif yang mudah dijual di pasaran. Meskipun melukis di atas kaus masih tergolong hal yang baru, bukan berarti produk sejenisnya sulit untuk dikembangkan di kota ini.

“Saya berharap anak-anak di Palu dapat mengembangkan painting fashion, karena ini jarang sekali di Indonesia. Medianya tidak hanya di kaus, bisa juga di sepatu, celana, tas dan lukis objek yang khas di sini. Ini dapat memperkuat ekonomi kreatif. Di sisi lain, buat saya Palu ini sudah ada ‘roh’nya untuk kesenian, banyak pelukis di sini. Mungkin dari dinas pariwisata dan kebudayaan setempat bisa sering-seirng mengadakan kegiatan semacam ini,” tambahnya.

Meski calon perupa muda masih harus melalui perjalanan yang panjang untuk menjadi pelukis profesional, tak menutup kemungkinan berlatih menjadi cara terbaik yang bisa dilakukan. Misalnya, saran Petrus, dengan rajin membuat sketsa terlebih dahulu. Dari sana dapat diketahui bagaimana cara membuat garis yang baik, komposisi, bentuk hingga kolaborasi warna yang diinginkan.

“Melukis itu bukan tergantung dari bakat alami tapi keinginan. Seorang pelukis akan merefleksikan keinginan kita ke berbagai media. Orang juga melihat lukisan yang bagus itu bukan cuma lukisan realistis, bisa jadi lukisan abstrak, impressionisme, ataupun kubisme,” jelasnya.

Dengan adanya kegiatan melukis di PBI-FPPN 2017 ini diharapkan dapat melahirkan perupa-perupa muda yang berbakat, profesional, kreatif dan berkarakter.

 

TINGGALKAN KOMENTAR