Forum Diskusi Merayakan Istiqlal

1
1178
Sumber : Wikipedia

Jakarta – Direketorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, bekerjasama dengan Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) mengadakan acara Forum Diskusi dengan tema “ Masjid Pusat Peradaban dan Pemersatu Bangsa”(27/02). Acara diselenggarakan dalam rangka perayaan milad masjid Istiqlal yang ke 39.

 

Diskusi ini menghadirkan Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam, Azyumardi Azra, sebagai pemakalah. Selain itu dihadirkan pula Budhy Munawar Rachman dari Asia Foundation bidang Pengembangan Islam, Muhammad Jazir ASP ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokarian, serta Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid.

Azymardi Azra berbicara mengenai sejarah masjid dalam peradaban islam, serta hubungan masjid dan politik. Budhy Munawar menekankan fungsi masjid sebagai pusat intelektual. Muhammad Jazir menyerukan konsep peradaban masjid (spiritual). Sementara Hilmar Farid menambahkan tentang pentingnya mendaftaran masjid-masjid bersejarah sebagai cagar budaya demi perlindungan dan pengembangannya.

Para narasumber sepakat tentang “pengembalian masjid sesuai dengan fungsinya dalam sejarah Islam” yaitu sebagai pusat keagamanan, pendidikan, ilmu pengetahuan, pusat sosial dan peradaban islam. Mereka pun setuju masjid dapat menjadi pusat pemersatu bangsa.

Dalam penutupannya, Hilmar Farid mengatakan bahwa untuk mewujudkan semua hal tersebut kerjasama berbagai pihak diperlukan. “Kegiatan seperti ini juga masih terus berlanjut, yang terdekat akan dilakukan di Banten”, tambahnya.

Masjid Pusat Peradaban

Dalam bahasa Arab, dikenal istilah “Al Jami’ah” yang bermakna Universitas, berasal dari kata “Al Jami’’’, sebutan untuk masjid yang digunakan umat muslim berkumpul dalam skala besar. Dalam sejarahnya, selain sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi tempat pendidikan dan pembelajaran. Dari sana akhirnya muncul kelembagaan, asrama disekitar masjid untuk memudahkan anak-anak belajar dimasjid, hingga pesantren. Inilah yang menjadi cikal bakal “Al Jami’ah”. Universitas Al Azhar Kairo yang paling populer (970 M). Ada pula universitas yang lebih tua yakni Al Jami’ah Zaytunah (864 M) dan Al Jami’ah Al Qarawiyyin 9857 M). Masjid menjadi pionir peradaban.

Masjid juga pernah menjadi pusat kebudayaan. Tata kota Islamic Cities berpusat di masjid. Masjid Jami’ berada ditengah, kemudian sarana pendidikan dan pelayanan kesehatan dilingkaran berikutnya. Selanjutnya pusat-pusat pelayanan dan jasa, toko peralatan ibadah dan buku. Pasar dan sektor-sektor perdagangan berada dilingkaran berikutnya. Baru pemukiman pendudukan dilingkaran terluar. Disini terlihat jelas spritualitas melingkupi segala aspek kehidupan termasuk politik. Hal serupa juga terlihat di istana-istana Jawa, Jogja dan Solo misalnya. Masjid berdampingan dengan pusat pemerintahan ‘’kraton’’.

Kini upaya menjadikan masjid sebagai pusat peradaban dan kebudayaan telah mulai muncul kembali. Banyak masjid yang tidak hanya menyediakan ruang shalat tetapi juga ruang untuk kepentingan sosial, pendidikan, perpustakaan hingga kesehatan. Lebih dari itu, mungkin masjid-masjid tersebut pun dapat menjadi simbol pemersatu sebagaimana Masjid Istiqlal.

Sumber : Wikipedia

1 KOMENTAR

  1. Ia masjid seharusnya menjadi pusat peradaban dan kebudayaan. Masjid harus menyediakan ruang untuk kepentingan sosial, pendidikan, perpustakaan hingga kesehatan. Bukan sekadar untuk ibadah ritual saja.

TINGGALKAN KOMENTAR