Ditjenbud Gelar Bedah Buku “Integrasi Bangsa dalam Bingkai ke-Indonesiaan”

0
514

Bandung — Ditjen Kebudayaan, melalui Subbag Tata Usaha, hari ini menggelar bedah buku “Integrasi Bangsa dalam Bingkai ke-Indonesiaan” karya Prof. Dr. Susanto Zuhdi, di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Kamis (13/4).

Turut hadir sebagai narasumber di antaranya Mantan Ketua MSI cabang Jawa Barat dan Guru Besar UPI Hamid Hasan, Guru Besar Unpad Nina Herlina, Sejarawan Anhar Gonggong, dan Sejarawan Nunus Supardi. Sebelum memulai acara, Susanto Zuhdi, sang penulis buku memberikan pengantarnya.

“Indonesia kacau bukan karena fisika, tapi karena sejarah. Hampir saja,” tegasnya.

“Apakah sejarah dapat memecahkan persoalan bangsa? Sebab kalau tidak, untuk apa dipelajari. Mengapa sejarah dipelajari dan untuk apa? Sejarah bisa memberikan sesuatu. Lalu, apa masalah bangsa itu? Dengan sejarah seperti apa kita bisa menjawab masalah negara itu? Di situlah sejarah berdiri. Ini yang akan kita bahas bersama,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Anhar Gonggong menggarisbawahi pentingnya sejarah dalam bingkai persatuan dan ke-Indonesiaan. “Gagasan mengenai Indonesia sebagai wujud suatu negara memang baru muncul di awal abad ke-20, dan wilayah NKRI juga memang bekas wilayah kolonial Belanda, namun ke-Indonesiaan bukan pemberian kolonial, melainkan kesadaran anak-anak bangsa yang ditempa oleh kesamaan sejarah dan cita-cita,” jelasnya.

Kita melihat, lanjut Anhar, sejarah seakan-akan berjalan secara linier, padahal tidak. “Sejarah itu bahkan tidak linier. Kalau misalnya sejarah Indonesia linier, seharusnya kita tidak menjadi Republik dan negara kesatuan, tetapi kerajaan, karena dahulunya kita sangat tradisional,” lanjut Anhar.

Perspektif “ke-Indonesiaan” menjadi paradigma yang tidak dapat ditawar. Membingkai dan merajut kembali kecenderungan berkepingnya Indonesia, dengan menguatnya “regionalisme” seperti tampak dalam praktik pemekaran wilayah dan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) ke dalam benang merah sejarah Indonesia.

Merekonstruksi ke-Indonesiaan adalah dengan memasukkan sebanyak mungkin bagian yang membentuk Indonesia, baik dalam arti gagasan dan nilai, maupun sumbangan potensi daerah-daerah dengan berbagai karakternya.

Lawatan Sejarah menjadi salah satu metode yang digunakan untuk mendukung penguatan ke-Indonesiaan. Tema merajut simpul-simpul ke-Indonesiaan dapat dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat pengasingan pejuang bangsa di berbagai pelosok tanah air.

TINGGALKAN KOMENTAR