Ditjen Kebudayaan Dukung Program Prehsea 2017 di Salatiga

0
516

Salatiga, Jawa Tengah – Beragam upaya pembangunan dan pelestarian benda/situs cagar budaya dunia terus dilakukan, salah satunya adalah memberikan dukungan atas terselenggaranya Prehsea (Managing Prehistoric Heritage in Southeast Asia) di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, Senin (22/5). Acara dibuka oleh Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid.

Ditemui di sela-sela acara, Hilmar menyampaikan dukungannya. “Kami dari Direktorat Kebudayaan, dan saya secara pribadi sangat mendukung akan terselenggaranya acara ini dengan memberikan kemudahan akses untuk melakukan ekskursi atau kunjungan ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, dan situs-situ prasejarah lain yang kita miliki. Para peserta akan mendapat kesempatan langsung untuk mengikuti perkembangan terakhir tentang studi yang dilakukan dan kajian-kajian yang sudah dibuat,” katanya.

Di samping itu, tambahnya, pemerintah juga memberikan kontribusi untuk para peserta yang datang dari luar negeri, termasuk di dalamnya akomodasi seluruh peserta. “Tetapi yang lebih signifikan dari semuanya adalah dukungan kelembagaan. Artinya, forum ini secara resmi didukung oleh kementerian, dalam hal ini Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud. Di mana tentunya akan menambah bobot bagi pertemuan ini, serta tentu akan lebih mudah pula bagi para peserta nantinya untuk mengembangkan kegiatan serupa di negerinya masing-masing,” ia memaparkan.

Penyelenggaraan program ini dinilai sangat signifikan karena mempertemukan berbagai bidang keahlian, mulai dari Studi Prasejarah, Arkeologi, Ilmu Geologi, hingga Ilmu Biologi. “Bidang ini agak langka. Dengan adanya program Prehsea ini, mereka yang sedang studi di bidang ilmu tersebut dapat menemukan forumnya. Jadi saya kira ini adalah inisiatif yang sangat baik,” ujar Hilmar.

Prehsea (Managing Prehistoric Heritage in South East Asia) adalah kegiatan antarnegara yang didanai oleh Uni Eropa untuk dua negara di Asia Tenggara yaitu Indonesia (Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran) dan Filipina (National Museum of the Philippines). Program ini didukung oleh UNESCO dan Perancis (Museum National d’Histoire Naturelle) sebagai koordinatornya.

Tujuan yang ingin dicapai dalam program ini adalah memberikan gambaran membangun pengelolaan benda/situs cagar budaya, menjaga integritas, melestarikan nilai dan arti penting situs, serta mendorong pengembangan potensi sosial-ekonomi masyarakat lokal.

Program ini juga dihadirkan sejumlah pakar. Mulai dari ahli Antropologi, Paleoantropologi yang mempelajari manusia purba, ahli Iklim, dan ahli Biologi. Semua bidang ilmu tersebut merupakan satu kesatuan dan sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan pemahaman kehidupan prasejarah. Di Indonesia sendiri, forum seperti ini tidak banyak terselenggara, baik untuk level mahasiswa S1, S2, S3, maupun peneliti-peneliti muda.

Sehingga, forum ini dinilai sangat strategis bagi perkembangan dan pelestarian benda atau situs cagar budaya dunia, khususnya Indonesia. Prehsea 2017 diisi dengan berbagai agenda kegiatan, mulai dari kuliah umum dari para ahli, para mahasiswa dan peneliti muda yang berasal dari 15 negara di Asia Tenggara dan Eropa ini akan menyampaikan hasil-hasil riset yang telah dilakukan.

Menariknya, dalam program Prehsea 2017 ini terdapat peserta asal Filipina, yang sedang mengambil gelar masternya di salah satu universitas di Paris, Prancis, meneliti tentang Manusia Purba Sangiran, dan akan menyelenggarakan ujian disertasi di Sangiran.

“Kami sedang upayakan perizinan dan persetujuan dari universitas dan Kopertis, serta lokasi yang dapat digunakan. Ini adalah kesempatan yang sangat baik, kami dari lembaga pendidikan akan terus mengupayakan yang terbaik demi kemajuan dan pelestarian cagar budaya dan warisan dunia,” ujar Ferry Karwur, Ketua Program studi Magister Ilmu Biologi, sekaligus Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

TINGGALKAN KOMENTAR