Koleksi Prasasti Emas Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY

0
788
Prasasti emas dari Situs Boko, yang berbunyi: “om rudra ya nama swaha”. Ditemukan di Kraton Ratu Boko, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 26 Juni 1989.

    Prasasti berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti puji-pujian. Pengertian prasasti berkembang menjadi inskripsi atau suatu tinggalan bertulis yang dituliskan pada benda keras, seperti batu, logam, maupun kayu. Isi dari prasasti biasanya berupa peringatan akan suatu kejadian, pada masa Jawa Kuna, prasasti umumnya berisi tentang penetapan tanah perdikan (sima), beberapa prasasti juga berisi tentang keputusan pengadilan (jayapatra/ jayasong), utang-piutang (suddhapatra), kemenangan (jayacikna), kutukan, mantra, angka tahun, dan lain-lain.

   Prasasti emas koleksi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta, seluruhya merupakan bagian dari peripih sebuah candi. Berdasarkan isinya, prasasti emas koleksi BPCB Daerah Istimewa Yogyakarta, dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

  1. Prasasti Berisi Mantra

    Prasasti emas yang berisi mantra, umumnya banyak ditemukan sebagai bagian dari peripih sebuah bangunan suci atau candi. Mantra yang dituliskan biasanya mengacu pada suatu dewa tertentu, yang berkaitan dengan bangunan suci di mana dewa tersebut dipuja atau dimuliakan, sebagai contoh ialah Prasasti emas dari Situs Boko, yang berbunyi: “om rudra ya nama swaha”, di mana mantra tersebut menyebut tokoh Dewa Rudra (salah satu aspek Dewa Siwa), sehinga dikaitkan dengan bangunan suci/candi Hindu, berbeda jika adanya prasasti yang bertuliskan mantra Buddha, seperti formula “Ye Te” mantra.

Prasasti emas dari Situs Boko, yang berbunyi: “om rudra ya nama swaha”. Ditemukan di Kraton Ratu Boko, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan,
Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 26 Juni 1989.

2. Prasasti Berisi Nama Dewa

     Prasasti emas yang berisi nama-nama dewa, umumnya banyak ditemukan sebagai bagian dari peripih sebuah bangunan suci atau candi. Temuan tersebut dapat mengindikasikan latar belakang keagamaan sebuah bangunan suci atau candi. Pada candi Hindu, umumnya ditemukan prasasti bertuliskan dewa-dewa dari pantheon Hindu, seperti dewa-dewa lokapala, misalnya seperti pada temuan prasasti emas dari Candi B (Garuda) Kompleks Candi Prambanan. Sedangkan pada bangunan suci atau candi berlatar belakang agama Buddha, ditemukan tulisan dewa-dewi dari Agama Buddha, seperti pada temuan Situs Bedingin, yang tertulis nama Dewi Tara.

Lempeng Prasasti Emas Candi Garuda Prambanan 1 bertuliskan huruf Jawa Kuna berbunyi “riniti”. Riniti atau Nirŗti (Nirruti, Nirriti, Nairŗta, Nairŗti) adalah salah satu dewa lokapala (astadikpalaka). Ditemukan di bagian belakang dinding sumuran Candi Garuda, Kompleks Candi Prambanan pada Juni 1991.

3. Prasasti Berisi Aksara

       Prasasti emas yang berisi aksara, umumnya tertulis aksara suci (bijaksara) berupa huruf “om”, “ah”, “hrih”, “ang”, “ung”, “mang”, dan sebagainya. Salah satu temuan menarik dan langka yang menjadi koleksi BPCB D.I. Yogyakarta ialah temuan prasasti emas dari Sumberwatu, Sambirejo, Sleman, DIY, di mana prasasti ini terdapat 33 susunan berurutan aksara Jawa Kuna, yang diulang sebanyak dua kali. Temuan prasasti ini merupakan satu-satunya temuan prasasti di Indonesia yang terdapat seluruh aksara Jawa Kuna yang ditulis secara lengkap.

Lempengan Prasasti Emas Sumberwatu bertuliskan urutan abjad Jawa Kuna sebanyak 33 aksara
di mana pada lempeng prasasti ini dituliskan sebanyak dua kali. Adapun aksara tersebut ditulis dua kali yaitu : “ka, kha, ga, gha, na, ca, cha, ja, jha, ña, ta, tha, da, dha, na, ta, tha, da, dha, na, pa, pha, ba, bha, na, ya, ra, la, wa, ça, sa, sha, ha”.

4. Prasasti Berisi Angka

Prasasti berisi angka termasuk prasasti yang langka, di mana prasasti yang memuat angka biasanya terdapat pada prasasti batu, yang menjadi komponen dari sebuah bangunan atau arca, seperti temuan pada Candi Sukuh, misalnya memuat angka tahun. Prasasti emas koleksi BPCB D.I. Yogyakarta, yang berasal dari Candi Barong, memuat angka 5 6 8 yang diulang sebanyak tiga kali, kemungkinan angka ini merupakan angka tahun saka 865 Saka atau 943 Masehi.

Prasasti Emas Candi Barong bertuliskan aksara dan bahasa Jawa Kuna, yang berisi tiga aksara yang diulang sebanyak tiga kali. Ditemukan di Candi Barong, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY, pada Juni 1999.

    Kandungan emas pada prasasti emas koleksi BPCB D.I. Yogyakarta, umumnya mengandung tiga unsur logam pada setiap artefak, yaitu logam emas (Au), logam perak (Ag), dan Logam tembaga (Cu). Hal ini berdasarkan data uji kadar emas dengan menggunakan metode nondestructive test, yaitu dengan menggunakan alat X-ray Fluorosence (XRF) untuk analisis precious metal. Adapun kandungan emas pada koleksi prasasti yaitu:

Kadar emas (Au) 67,21 % – 73,69 %  Rata-rata 70,45 %

Kadar perak (Ag) 6,03 % – 27,15 %  Rata-rata 16,59 %

Kadar tembaga (Cu) 2,77 % –   4,02 %  Rata-rata   3,39 %

Dengan demikian, rata-rata prasasti emas memiliki kadar 16,90 karat.

Sumber:

BPCB DIY. 2015. Katalog Koleksi Emas BPCB DIY. Yogyakarta: BPCB DIY.

TINGGALKAN KOMENTAR