Mengungkap Struktur Reruntuhan Kapal di Pantai Leato Gorontalo

1
1337
Salah seorang penyelam Tim Pemetaan dan Dokumentasi BPCB Gorontalo saat melakukan pengambilan data fotogrametri di baling-baling reruntuhan kapal situs Leato, Kota Gorontalo (Foto: BPCB Gorontalo, 2017)

Peristiwa Perang Dunia II di wilayah perairan laut Indonesia dapat dikatakan sebagai “arena pertarungan” kekuatan armada laut dua negara yakni angkatan perang Amerika Serikat dan angkatan perang Jepang. Peperangan ini kian populer dan dikenal sebagai Perang Pasifik atau Dai Toa Senso (Perang Asia Timur Raya) sejak 8 Desember 1941. Saat itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jhr. A.W.L. Tjarda van Starkenborgh di Batavia mengeluarkan maklumat perang terhadap Jepang, kemudian Jepang membalas maklumat perang tersebut tepat pada 1 Januari 1942 dengan menyatakan perang terhadap Amerika dan sekutunya.

Perang pasifik yang terjadi dalam kurun tahun 1942 hingga 1945 di Indonesia, secara tidak langsung memberikan dampak terhadap “kekacauan” jalur pelayaran dan perniagaan perusahaan maskapai pelayaran Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), sekaligus menimbulkan kerugian perusahaan tersebut sejak didirikan tahun 1870 dengan melayani jalur pelayaran langsung dari Belanda ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Letak Kota Gorontalo yang berada di sebelah Utara Teluk Tomini, menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat perdagangan dan berlabuhnya berbagai kapal uap yang dimiliki Hindia Belanda sejak abad ke-18 hingga abad ke-19. Perusahaan pelayaran Hindia Belanda yang hadir saat itu yakni Koninklijke Paketvaart Maatschappicj atau diakronimkan KPM. Jalur Pelayaran Teluk Tomini merupakan akses laut yang menghubungkan wilayah Gorontalo – Poso – Mapene – Gorontalo.

Foto diperkirakan tahun 1924-1932, memperlihatkan berlabuhnya berbagai kapal uap milik Hindia Belanda di Teluk Tomini Gorontalo (Foto: Tropenmuseum.nl)

Kehadiran perusahaan pelayaran KPM milik Hindia Belanda di Gorontalo secara resmi dimulai saat dibukanya jalur pelayaran yang menghubungkan Gorontalo – Manado – Kema – Ternate serta kesepakatan kontrak pelayaran di Teluk Tomini dari Asisten Residen Sulawesi Tengah A.J.N Engelenberg pada tanggal 4 September 1888.

Dampak langsung perang pasifik di Gorontalo yakni pada 19 Januari 1942, saat itu pasukan Vernielingscorps membakar sebuah kapal milik KPM yang sedang berlabuh tidak jauh dari pangkalan Wedloop Societeit Gorontalo di dekat Pabean (sekarang pangkalan Pertamina). Vernielingscorps atau pasukan penghancur yang dibentuk pemerintah Hindia Belanda melalui Asisten Residen Gorontalo yakni Beny Corn merupakan pasukan yang bertujuan untuk membumihanguskan berbagai bangunan vital yang dimiliki Hindia Belanda saat Jepang berhasil menginvasi Manado pada 10 Januari 1942.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo melalui Tim Kegiatan Pemetaan dan Dokumentasi Potensi Cagar Budaya Bawah Air dan dibantu seorang arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, berupaya mengungkap identitas kapal yang berada di pantai Leato. Informasi yang berkembang di masyarakat luas menyebutkan, bahwa kapal yang terdapat di pantai Leato, Kota Gorontalo merupakan kapal kargo Jepang, bernama Kyosei Maru atau Kosei Maru yang tenggelam antara tahun 1957-1958 akibat kebakaran yang terjadi di kapal tersebut.

Lokasi situs reruntuhan kapal yang terletak di pantai Leato. (Foto: BPCB Gorontalo, 2017)

Hasil penelusuran yang dilakukan oleh Tim Pemetaan dan Dokumentasi Potensi Cagar Budaya Bawah Air BPCB Gorontalo, kapal kargo Jepang bernama Kyosei Maru atau Kosei Maru tidak tenggelam di Gorontalo, melainkan tenggelam di wilayah kepulauan pasifik. Terdapat 2 nama kapal Kyosei Maru, Pertama adalah Kyosei Maru yang tenggelam sekitar tahun 1924 merupakan tipe kapal kargo uap dibuat pada tahun 1897 oleh perusahaan dari Sunderland, Inggris yakni Doxford and Sons Ltd. Kapal ini pertama digunakan oleh perusahaan Clan Line Steamers Ltd. – Cayzer, Irvine and Co Ltd. yang bermarkas di London dengan menggunakan nama kapal SS Clan Robertson dari periode 1897-1922. kemudian digunakan oleh Jepang pada periode 1922-1924 melalui Kyosei Kisen K.K. Kobe dan berganti nama menjadi Kyosei Maru. Kapal Kyosei Maru dilaporkan tenggelam dan kehilangan kontak pada tanggal 06 Januari 1924 di sekitar perairan pasifik.

Kapal Kyosei Maru yang tenggelam pada tahun 1924 di perairan Pasifik. (Foto: wrecksite.eu)
Letak lokasi kapal Kyosei Maru yang karam pada tahun 1924 (Sumber: wrecksite.eu)

Kedua adalah Kyosei Maru yang tenggelam sekitar tahun 1944 dengan angka tahun pembuatan tahun 1938, kapal ini merupakan tipe kapal perang yang menggunakan mesin diesel. Perusahaan pembuat kapal yakni Urabe Zosen Tekkosho K.K dan digunakan oleh Armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Imperial Japanese Navy). Kapal Kyosei Maru tenggelam akibat pertempuran laut dan dinyatakan hilang pada tanggal 22 Februari 1944 di Pasifik.

Letak lokasi kapal Kyosei Maru yang karam pada tahun 1944 (Sumber: wrecksite.eu)

Kemudian Kapal Kosei Maru merupakan kapal Kargo Jepang yang tenggelam pada tahun 1943 dengan menggunakan mesin turbin uap. Kosei Maru dibuat pada tahun 1920 oleh perusahaan Workman, Clark and Co. Ltd., Belfast di Inggris. Pertamakali kapal ini bernama SS Narenta yang digunakan oleh Royal Mail Steam Mail Packet Co. Ltd, (Royal Mail Lines), London pada periode 1920-1939. Periode 1939-1943 Perusahaan Jepang yakni Nippon Suisan K.K. merupakan pengguna terakhir kapal dengan mengganti nama kapal menjadi Kosei Maru dengan nama sandi Tunny. Kosei Maru dilaporkan menghilang di perairan pasifik akibat serangan torpedo pada tanggal 07 April 1943.

Kapal Kosei Maru yang tenggelam tahun 1943 di Pasifik (Foto: wrecksite.eu)
Letak lokasi kapal Kosei Maru yang karam pada tahun 1943 (Sumber: wrecksite.eu)

Berdasarkan hasil tersebut, informasi terkait identitas reruntuhan kapal yang terdapat di Leato tersebut bukanlah kapal Kyosei Maru atau Kosei Maru seperti yang asumsikan oleh masyarakat luas di Gorontalo.

Jarak pandang di lokasi reruntuhan kapal situs Leato rata-rata mencapai 15 sampai 30 meter dengan arus gelombang rendah. Lingkungan sekitar situs didominasi dengan pasir dan terumbu sea fans dan sponges. Area kontur dasar laut letak struktur kapal merupakan drop off yang mencapai lebih 60 derajat dengan slope rata-rata 15 sampai 45 derajat.

Nampak bagian bawah lambung kapal yang pecah dari struktur reruntuhan kapal situs Leato (Foto: BPCB Gorontalo, 2017)

Bagian buritan kapal adalah tempat pertama yang dapat diamati dengan kedalaman 28 sampai 30 meter. Komponen buritan kapal dapat dikatakan dalam kondisi yang cukup baik, bahkan masih terdapat baling-baling kapal. Panjang struktur reruntuhan kapal situs Leato mencapai 52 meter dan lebar 12 meter dengan posisi kapal terbalik serta arah hadap kapal yang melintang ke Barat Laut. Di kedalaman 42 sampai 45 meter terlihat bagian lambung depan kapal pecah beberapa bagian, dan pada kedalaman 54 meter terdapat haluan atau bagian depan dari struktur kapal.

Tampak atas yang memperlihatkan bagian-bagian dari struktur reruntuhan kapal di situs Leato, Gorontalo (Foto : BPCB Gorontalo, 2017)

Saat ini identitas kapal yang terdapat di situs Leato perlu dikaji lebih dalam untuk mengetahui nama kapal, asal pembuatan kapal, dan pemilik perusahaan kapal. Hal ini dikarenakan belum dimilikinya informasi yang tepat untuk mengungkap identitas kapal yang tenggelam di Leato. Adapun hal yang perlu didalami adalah mengenai peristiwa pembakaran kapal di Gorontalo yang dilakukan oleh Vernielingscorps pada tahun 1942 dapat menjadi awal penelusuran untuk mengungkap letak reruntuhan kapal di dasar laut yang diindikasikan sebagai kapal milik Koninklijke Paketvaart Maatschappicj Belanda.

1 KOMENTAR

  1. Kemarin katanya mau ajak saya utk jalan2 sambil konservasi, koq gak jadi, pak?
    Btw selamat ya… Akhirnya sukses juga melakukan konservasi kapal. Tinggal diungkap itu kapal siapa.

TINGGALKAN KOMENTAR